Mencari Jalan Pintas Akibat Jerat Pinjol
Tawaran menggiurkan dari pinjaman daring—sering disebut pinjaman online atau pinjol—sering kali menjadi jebakan bagi para peminjam. Tak jarang, korban pinjol merasa tertekan hingga memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup.
Pada Selasa (17/12/2024) siang, suasana sepi menyelimuti sebuah rumah sederhana di Dusun Sumberejo, Desa Manggis, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Rumah berbahan batako yang terletak di pinggir jalan itu tampak tertutup rapat. Di terasnya, garis polisi terikat dari satu tiang ke tiang lainnya. Sebuah poster yang bertuliskan “Keluarga Ini Kurang Mampu Penerima Bansos: PKH (Program Keluarga Harapan) dan BPNT (Bantuan Pangan Nontunai)” terpasang di kaca jendela.
Bangunan kecil berukuran sekitar 6 meter x 3 meter itu adalah rumah D (31) dan istrinya, A (29). Beberapa hari sebelumnya, keluarga ini mencoba mengakhiri hidup bersama dua anak mereka.
D, A, dan putra sulung mereka, MNP (8), yang masih duduk di kelas II sekolah dasar, berhasil diselamatkan. Namun, anak bungsu mereka, MRS (2), meninggal dunia dan telah dimakamkan setelah menjalani proses autopsi pada Jumat (13/12) malam.
Ketika Kompas mencoba menemui kerabat korban di rumah orangtua mereka, suasana duka masih terasa. Bunga tabur yang sudah layu terlihat berserakan di halaman. Seorang kerabat yang sempat menyambut menyatakan enggan diwawancarai.
Berita mengenai tindakan nekat keluarga kecil ini telah menyebar luas. Meski demikian, tidak ada informasi pasti apakah tekanan dari pinjaman online menjadi penyebab tindakan tersebut. Beberapa tetangga mengaku mendengar kabar terkait pinjol, tetapi tidak mengetahui masalah detailnya.
”Kabarnya sih karena pinjol, tetapi saya tidak tahu pasti. Mereka tidak pernah bercerita kalau punya masalah,” ujar salah satu tetangga yang enggan disebut namanya.
Menurut tetangga, D dan A menghidupi keluarga mereka dengan membuka warung kelontong. D juga bekerja sebagai buruh tani, sebagaimana sebagian besar warga Dusun Sumberejo yang bermata pencaharian sebagai petani tebu dan nanas.
Kepala Desa Manggis, Katiran, membenarkan bahwa keluarga D menerima bantuan sosial dari pemerintah. Ia menjelaskan bahwa D berasal dari Mojoroto, Kota Kediri, dan bekerja sebagai buruh tani, sementara A adalah penduduk asli desa tersebut yang membuka usaha warung kelontong.
Namun, Katiran belum mengetahui secara pasti motif keluarga ini mencoba mengakhiri hidup. Setelah ditemukan dalam kondisi lemas, mereka segera dilarikan ke rumah sakit dan hingga kini masih menjalani perawatan.
”Korban katanya meminjam uang sebesar Rp 5 juta, tetapi hanya menerima Rp 3 juta,” ungkap Katiran.
Kasus ini menjadi pengingat betapa pentingnya kesadaran terhadap risiko pinjaman online, yang sering kali memberikan tekanan besar bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
(Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023