;

Obat Jadi Mahal karena Biaya Pemasaran dan Distribusi

Obat Jadi Mahal karena Biaya Pemasaran dan Distribusi

Mahalnya harga obat di Indonesia dibanding di luar negeri bukan sekadar akibat besarnya pajak yang berlaku. Biaya pemasaran dan distribusi serta kompleksnya rantai pasok produk farmasi turut memengaruhi besarnya harga obat yang harus dibayar masyarakat. Dibutuhkan transparansi untuk memastikan akses obat yang lebih terjangkau. Dalam sambutan pada acara IPMG Stakeholders Discussion Forum: Strategi Nasional untuk Tingkatkan Akses Obat dan Vaksin Inovatif di Jakarta, Kamis (12/12) Menkes, Budi Gunadi Sadikin mengakui, harga obat di Indonesia jauh lebih mahal dibanding di negara lain, seperti Singapura dan Malaysia. Harga obat di Indonesia bahkan bisa lebih mahal sampai lima kali lipat.

”Perbedaan (harga)-nya antara 150 % hingga 500 % atau 1,5 kali hingga lima kali lipat. Saya terima argumen bahwa kita punya masalah di pajak. Namun, jika pajak sekitar 11 %, sementara perbedaan harga sampai 500 %, itu tidak masuk akal,” katanya. Itu sebabnya, Budi berpendapat, besarnya pajak bukan penyebab utama tingginya harga obat di Indonesia. Menurut dia, biaya pemasaran dan rantai distribusi yang rumit di Indonesia membuat harga obat dan alat kesehatan menjadi mahal. Produk dengan harga impor Rp 100.000 bisa dijual di apotek atau rumah sakit sampai Rp 500.000. Harga itu bisa berbeda di tiap-tiap rumah sakit. ”Kita butuh transparansi untuk tahu di mana masalahnya. Banyak sekali layer di situ (marketing dan distribusi) yang mesti diberesin,” ucapnya. Selain itu, sistem layanan kesehatan yang tidak transparan turut menyebabkan akses yang tidak terjangkau di masyarakat. Saat ini, sistem pelayanan ke- sehatan, termasuk penyediaan obat-obatan bagi masyarakat, lebih banyak dipengaruhi sisi pasokan (supply), termasuk pada penyedia layanan kesehatan. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :