Bioetanol Indonesia harus mencari alternatif selain tebu
Pengembangan bioetanol sebagai campuran bahan bakar gasolin atau bensin di Indonesia relatif berjalan lambat, dengan kapasitas produksi 63.000 kiloliter per tahun. Padahal, ada target nasional 1,2 juta kiloliter bioethanol per tahun pada 2030. Selain koordinasi matang lintas sektor, diversifikasi bahan baku bioetanol juga menjadi kunci akselerasi pengembangan. Hal itu mengemuka dalam diskusi ”Bioetanol dan Dampaknya terhadap Ketahanan Energi Nasional” yang digelar Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) di Jakarta, Sabtu (7/12). Sebagai pembicara ialah Koordinator Program Studi Energi dan Lingkungan Berkelanjutan di Swiss German University Evita Legowo.
Evita mengatakan, dari identifikasinya, ada sejumlah permasalahan dalam pengembangan bioetanol di Indonesia. Diantaranya, terbatasnya ketersediaan bahan baku yang tergantung pada panen, rantai pasok, dan opsi yang tersedia saat ini relatif baru pada molases (tetes tebu), bagasse (ampas tebu), dan limbah sawit. Maka, perlu ada studi mendalam untuk keberlanjutan bahan baku sampai ke tingkat keekonomian. ”Dalam mewujudkan itu, semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah (lintas kementerian), Pertamina, dan penyedia bahan baku perlu duduk bersama. Perlu ada sinergi semua pihak,” kata Evita. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023