Hening Purwati Parlan, Aktivis lingkungan dan keberagaman
Hening Purwanti Parlan, Direktur Green Faith Indonesia, organisasi lintas agama yang fokus pada lingkungan hidup dan keadilan iklim, mendampingi perwakilan lintas iman dari Jepang yang berkunjung ke Jakarta dan Indramayu, Jabar, pada akhir November. Mereka berdiskusi dengan tokoh agama di Indonesia dan menemui langsung Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu, kumpulan warga yang menolak pembangunan PLTU di Sukra, Indramayu. ”Mereka ingin mendengarkan suara-suara dari komunitas bawah. Sebagai pembayar pajak, komunitas agama, dan penggerak, mereka ingin membantu kampanye penutupan PLTU bisa lebih cepat,” ujar Hening di Indramayu, Kamis (24/10). Pemerintah mendorong penutupan sejumlah PLTU di Indonesia untuk mewujudkan komitmen net zero emission (NZE) pada 2060.
NZE adalah kondisi emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer tidak melebihi kapasitas penyerapan bumi. Jepang termasuk salah satu negara yang turut mendanai pembangunan PLTU. Padahal, PLTU tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan dan aspek sosial. Kerja sama lintas organisasi hingga negara diperlukan untuk memastikan komitmen itu berjalan. ”Sebelumnya, GreenFaith Indonesia, Afrika, juga datang ke Jepang. Kami bertemu dengan akademisi, perwakilan kementerian lingkungan hidup, dan tokoh agama,” ucapnya. Tokoh agama, memiliki peran penting dalam melestarikan alam. Agama dan kepercayaan apa pun memegang nilai yang sama, seperti tidak merusak lingkungan, mengangkat harkat martabat seseorang agar hidup lebih damai, bersih, dan sejahtera. Setiap agama mengajarkan manusia agar menyelamatkan dan memuliakan bumi.
Dalam agama bahkan ada hubungan antara Tuhan dan hamba-Nya, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam. ”Kalau hubungan manusia dengan alam itu rusak, maka hubungan dengan Tuhan tidak akan berjalan dengan baik,” ucap Ketua Divisi Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat Aisyiyah ini. Aisyiyah ialah organisasi perempuan Muhammadiyah. Hening mencontohkan, jika air tercemar atau mengering, umat Islam kesulitan berwudu. Padahal, wudu ialah cara Muslim menyucikan diri sebelum shalat. Begitu pula dengan umat Buddha, yang akan kehilangan hubungan sacral dengan pohon apabila pepohonan habis ditebang. Umat Hindu, juga tidak bisa beribadah dengan baik apabila buah dan bunga untuk menjalankan ritual habis dan digantikan plastik. Jadi, melestarikan alam tidak bisa dipisahkan dari menjaga relasi dengan Sang Pencipta. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023