;

Surplus Dagang Tak Mengangkat Nilai Rupiah

Ekonomi Hairul Rizal 16 Nov 2024 Kontan
Surplus Dagang Tak Mengangkat Nilai Rupiah
Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 2,48 miliar pada Oktober 2024, menandai surplus beruntun selama 54 bulan. Sepanjang 2024, total surplus mencapai US$ 24,43 miliar, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (US$ 31,19 miliar). Surplus ini ditopang oleh lonjakan ekspor minyak sawit mentah (CPO) sebesar 70,90% secara bulanan (mtm), meskipun ekspor batu bara dan besi baja mengalami penurunan tahunan (yoy).

Namun, pelemahan nilai tukar rupiah tetap terjadi, meskipun surplus perdagangan bertahan. Pada Oktober 2024, rupiah melemah 3,30% menjadi Rp 15.705 per dolar AS dan terus tertekan hingga Rp 15.888 pada pertengahan November. Menurut Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, pelemahan rupiah disebabkan oleh sentimen eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kemenangan Donald Trump dalam pemilu AS, serta ekspektasi bahwa The Fed tidak akan segera menurunkan suku bunga.

Kepala Ekonom BCA David Sumual memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 15.700–Rp 16.000 hingga akhir 2024. Meskipun neraca perdagangan diperkirakan tetap surplus hingga akhir tahun, nilainya diproyeksi stagnan akibat harga komoditas yang masih fluktuatif dan potensi kebijakan proteksionis AS di bawah Trump.

Kenaikan impor pada Oktober, terutama bahan baku dan barang modal, menunjukkan sinyal positif untuk kegiatan industri. Namun, sentimen global yang masih penuh ketidakpastian menjadi tantangan utama bagi stabilitas nilai tukar rupiah, meski ekonomi domestik menunjukkan performa surplus perdagangan yang konsisten.
Download Aplikasi Labirin :