;

Uang, Antara Kepercayaan dan Keresahan Masyarakat Indonesia

Uang,  Antara Kepercayaan dan Keresahan Masyarakat Indonesia

Setiap tahun tanggal 30 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Uang Nasional, dari peristiwa bersejarah diterbitkannya Oeang Republik Indonesia atau ORI, yang menjadi cikal bakal mata uang rupiah di Indonesia. Di balik acara seremonial itu, sebagian warga selalu dibuat resah oleh uang ketika uang sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu itu kurang atau bahkan tidak ada, sedangkan kebutuhan terus bergulir. Damianus Suryo (26), pekerja swasta di DI Yogyakarta, kerap resah ketika salah satu teman lamanya menghubungi secara tiba-tiba. Sebab, hanya sekali dua kali ia dihubungi oleh temannya saat hendak meminjam sejumlah uang.

”Uang bisa menjadi cerminan karakter seseorang. Rata-rata memang hampir selalu berujung merusak pertemanan, tetapi bisa juga untuk melihat sejauh mana orang itu bisa dipercaya,” kata Damianus, Rabu (30/10). Damianus lebih resah ketika pundi-pundi penghasilannya tidak pasti. Sebagai karyawan tidak tetap, ia kerap waswas sewaktu-waktu kontraknya tidak diperpanjang. Sebab itu, Damianus harus memutar otak mengelola uangnya.

Setiap bulan, ia mampu menyisihkan uang hingga sepertiga penghasilannya untuk ditabung. Selebihnya, gajinya habis untuk kebutuhan sehari-hari, seperti membeli makanan, membeli bensin, serta kebutuhan pribadi lain, seperti peralatan mandi. ”Tanpa perlu diperingati sebagai Hari Uang, setiap hari orang pasti ingat untuk terus mencari uang. Apalagi, di zaman yang serba susah, harga-harga pada mahal. Kadang mencarinya setengah mati, tetapi habisnya setengah sadar,” ujarnya. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :