Kebijakan Seribu Bakat China, untuk Pengembangan Riset
Gerard Mourou, fisikawan Perancis peraih Nobel Fisika, pindah ke Universitas Peking, China. China makin percaya diri mengembangkan risetnya. Mengutip South China Morning Post 24 Oktober 2024, Kompas.id melaporkan, sejak 12 Oktober 2024, Gerard Mourou memainkan peran penting mengembangkan fasilitas berbasis sinar laser, proyek kerja sama Universitas Peking, Ecole Polytechnique Paris, dan perusahaan teknologi global Thales. Risetnya mencakup bidang fisika laser, fisika partikel dan nuklir, fisika medis, serta astrofisika. Sebelum memutuskan berkarya di China, Mourou pernah bekerja di AS. Lulus dari Universitas Pierre dan Marie Curie Paris pada 1973, ia bekerja di Universitas Rochester di AS, tempat ia melakukan karyanya yang meraih hadiah Nobel tahun 2018 bersama fisikawan AS, Arthur Ashkin, dan Donna Strickland, fisikawati Kanada.
Mourou kemudian bekerja di Universitas Michigan, AS, tempat ia mendirikan Pusat Sains Optik Ultracepat, kemudian di Ecole Polytechnique, sebelum pindah ke Beijing. Perhatian Mourou terhadap keseriusan China mengembangkan sains dikemukakan pada acara publik di Beijing, setelah menerima hadiah Nobel Fisika. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap kemajuan sains China. Ia mengatakan, Pemerintah China melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam memprioritaskan ilmu pengetahuan daripada AS, yang saat itu dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Keseriusan China atas sains tidak kurang disampaikan Presiden China Xi Jinping pada Juli 2024. Dalam suatu Kesempatan, ia berpidato mengenai wacana untuk mengeluarkan izin tinggal permanen bagi para ilmuwan asing yang berkarier di China.
Kebijakan ini diharapkan mampu menarik minat pakar-pakar dari luar negeri mengembangkan ilmu mereka di China. Berdasar data Statista, pada 2022 AS membelanjakan 761,58 miliar USD untuk riset dan pengembangan, diikuti China yang membelanjakan 620,38 miliar USD. Ambisi China mengembangkan riset ini tak terlepas dari kebijakan Rencana Seribu Bakat pada 2008. Skema itu diluncurkan Beijing untuk menindaklanjuti kekurangan anggota komunitas intelektual di dalam negeri. Pada 2011, melalui program ini, Pemerintah China menawarkan skema bekerja paruh waktu. Ilmuwan yang sudah memiliki pekerjaan tetap di luar negeri bisa melakukan proyek paruh waktu di China. Cara ini menarik para ilmuwan China di luar negeri. Mereka tak perlu mengorbankan karier mereka. Berkembangnya riset akan melahirkan inovasi yang berperan penting dalam kemajuan China. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023