Tahapan Kesejahteraan Finansial
Memasuki usia 50 tahun kerap dijadikan acuan sebagai puncak tertinggi dalam kurva produktivitas seseorang. Secara umum, kondisi keuangan rumah tangga diharapkan sudah mapan dan berhasil mencapai kesejahteraan yang diinginkan. Ketika salah satu bagian hidup tidak seimbang, kemungkinan besar seorang karyawan akan merasa tidak tenang, berpotensi insomnia, rendahnya energi, dan mengalami stres. Sayangnya, penelitian terbaru mengungkap bahwa pascapandemi, orang dewasa rawan terkena tiga keresahan finansial, yakni ketidakpastian cara memenuhi kebutuhan masa depan, bagaimana bertahan hidup dengan kondisi saat ini, dan bagaimana memenuhi kebutuhan pengeluaran biaya kesehatan di masa nanti. Lantas apa saja tahapan yang akan dilalui sebelum akhirnya mencapai level sejahtera finansial?
Kesejahteraan finansial atau financial well-being adalah keadaan sejahtera ketika seseorang memiliki pola pikir positif tentang kehidupan finansialnya. Dalam kerangka berpikir ini, seorang karyawan memiliki rasa keamanan finansial dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapaitujuan keuangan. Hal ini mencakup faktor-faktor seperti tersedianya dana darurat, tabungan pensiun, rasio utang terhadap pendapatan yang terkendali, sertakemampuan berinvestasi untuk masa depan finansial. Untuk memahami prioritasnya, maka Hierarki Kebutuhan Maslow kerap saya gunakan sebagai perencana keuangan. Teori ini menyatakan bahwa setiap kebutuhan yang berada di bagian bawah piramida harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan apa pun yang berada di bagian atas piramida. Pada tingkat paling dasar, seseorang menukar waktu, keterampilan, pengalaman, energi, dan kreativitas dengan uang.
Seseorang kemudian menggunakan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan berdasarkan kepentingannya. Secara umum, ada lima tingkatan kesejahteraan finansial. Pertama adalah kondisi abai finansial, yang umumnya ditandai dengan ketidakpedulian seseorang akan kondisi keuangannya. Pemantik abainya seseorang bisa berakar pada kepribadian dan kultur yang percaya bahwa rezeki setiap orang sudah ada dan tidak perlu dipikirkan. Hal lain karena merasa ada atau tidak adanya uang tidak dinilai berpengaruh pada kondisi kehidupannya. Kedua, paham finansial, yang ditandai dengan sikap paham akan pentingnya literasi keuangan. Indikator umumnya adalah seseorang memiliki cukup uang untuk memenuhi ke butuhan minimum, seperti biaya hidup dasar, makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Tantangan terbesar adalah memastikan pengeluaran tidak melebihi pemasukan agar keuangan tetap stabil. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023