;

Tantangan Pengembangan Industri Kecerdasan Buatan

Teknologi Yoga 18 Oct 2024 Kompas
Tantangan
Pengembangan Industri Kecerdasan Buatan
Indonesia saat ini belum menerapkan teknologi 5G secara menyeluruh dan kerap kali disebut belum membutuhkannya. Namun, seiring perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), 5G akan menjadi kebutuhan. Di sisi lain, pengembangan AI juga berkaitan dengan keamanan siber, baik ancaman maupun dalam rangka menangkalnya. Vice President Head of Security  trategy and Artchitecture Indosat Ooredoo Hutchison Raditio Ghifiardi di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Kamis (17/10/2024), mengatakan, saat teknologi 5G sudah benar-benar diterapkan di Indonesia, industri teknologi informasi dan komunikasi akan bergabung. Adapun saat ini relatif masih ada dualisme di antara dua industri tersebut. Apabila sudah bergabung, pengembangan teknologi akan lebih luas, koneksi dengan berbagai teknologi, seperti mobil tanpa pengemudi (autonomous car), internet of things, dan kota cerdas, akan lebih mudah.

”Semua akan lebih cepat. Namun, di sisi lain, serangannya juga akan lebih mudah karena ibaratnya ’rumahnya’, kan, menjadi lebih besar,” kata Raditio yang menjadi pembicara pada salah satu sesi diskusi dalam pameran teknologi dan start up Gitex Global 2024 di Dubai. Keamanan siber menjadi salah satu tema dalam Gitex Global 2024. Acara yang diselenggarakan Dubai World Trade Center dan telah memasukitahun ke-44 itu diikuti 6.500 perusahaan peserta, 1.800 start up, dan 1.200 investor dari 180 negara di dunia. Acara berlangsung pada 14-18 Oktober 2024. Raditio menambahkan, dua hal krusial terkait keamanan siber di Indonesia ialah terkait kesadaran (awareness) dan sumber daya manusia. Kerap kali kebocoran data (data breach) berasal dari kelalaian pengguna. Di sisi lain, pemahaman mengenai keamanan data, seperti kata sandi yang dipakai ramai-ramai, perlu ditingkatkan. Teknologi ke depan, katanya, akan berkembang teknologitanpa kata sandi, yang sejatinya akan lebih sulit dibobol.

Namun, implementasinya masih membutuhkan waktu. Bagaimanapun, teknologi 5G krusial untuk pengembangan teknologi ke depan. ”Sekarang berkembang cloud (komputasi awan) dan semua membutuhkan cloud. Juga butuh koneksi yang terintegrasi. Itu semua enggak bisa di-cover oleh 4G,” katanya. Indosat, tambah Raditio, berencana bermigrasi dari perusahaan telekomunikasi ke perusahaan teknologi, yang nantinya memiliki berbagai produk AI yang bisa dikaitkan dengan keamanan siber. Pihaknya juga berharap akan memberi solusi terkait 5G dan mendukung tumbuhnya industri-industri baru di Indonesia, termasuk autonomous car. Sebelumnya, Telkom Group melalui Telkomsel berkolaborasi dengan Singtel dan Bridge Alliance untuk memperkenalkan layanan GPU-as-a-Service/unit pemrosesan grafis di Indonesia. Itu bertujuan mendorong adopsi AI di berbagai industri dengan memanfaatkan jaringan 5G Telkomsel. Layanan itu memungkinkan perusahaan untuk menerapkan AI dalam skala besar, mengurangi biaya, dan mempercepat pertumbuhan bisnis serta inovasi. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :