Dengan Seni Budaya Membangun Kota
Seperti makanan, seni merupakan kebutuhan dasar manusia. Seni budaya yang bergizi dan berkualitas perlu hadir di Taman Ismail Marzuki sebagai tempat untuk membangun peradaban kota dan manusianya. Di salah satu sudut ruang di Taman Ismail Marzuki, Haikal Ilmi Akbar (26), koreografer dari komunitas teater keliling, memberi instruksi kepada Kirana (12) agar bergerak menyesuaikan tempo menari. Sesekali Haikal memperbaiki gerakan Kirana yang kurang tepat. Pada saat bersamaan, Deddy Andrianto (25) menyesuaikan gerakan Kirana yang mulai mendapatkan ritmenya. Haikal pun meminta mereka bersama-sama terus mengulang agar setiap gerakan semakin padu. Latihan pada Selasa (15/10/2024) malam itu tak berlangsung satu arah. Kirana dan Deddy diberi kebebasan berkreasi menciptakan gerakan yang sesuai naskah dan lagu.
Diskusi menghiasi latihan mereka untuk pementasan di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Februari 2025. Sebagai pelaku seni, bagi Haikal dan teman-teman, kawasan TIM yang memiliki banyak ruang terbuka layaknya rumah yang nyaman untuk berkarya. Dukungan berupa kebebasan akses di TIM ini pula yang membuat pelaku seni, terutama anak-anak muda, bisa dan memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang bisa dinikmati masyarakat luas. Meski demikian, mereka sadar untuk menjaga ruang publik ini tetap bersih serta tidak mengganggu aktivitas pengunjung dan pelaku atau komunitas seni lain. ”Gratis pastinya, juga friendly community. Memilih latihan di sini juga karena ada di tengah kota yang mudah diakses dan kawasannya luas. Ruang publik yang paling nyaman dan kondusif untuk berkarya. Saat ini susah mencari tempat latihan karena banyak yang sudah berbayar,” tutur Haikal.
Menurut dia, selain sebagai ruang publik sekaligus ruang kreasi, TIM harus bisa menjadi ruang apresiasi. Oleh karena itu, Haikal berharap pemerintah dan pemangku kebijakan bisa memfasilitasi sejumlah pergelaran seni dan budaya. ”Secara umum, saat ini ada kekhawatiran siapa yang akan menonton dan menikmati karya kami. Untuk menghidupi seni budaya Indonesia ternyata butuh modal yang sangat besar sehingga berdampak pada tiket yang mahal. Ujung-ujungnya, hanya segelintir yang bisa menonton,” kata Haikal. ”Rumah” berbagai kalangan Tak hanya menjadi ruang berekspresi bagi pelaku seni dan budaya, TIM juga menjadi ”rumah” bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Salah satunya dirasakan Oktavia (38) yang mengunjungi TIM pada Rabu (16/10). Warga Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, ini menghadiri Festival Literasi Jakarta 2024. Festival yang diadakan untuk menyambut bulan sastra dan bahasa ini digelar hingga Minggu (20/10). (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023