;

JELAJAH SAMBAL NUSANTARA dari Aceh sampai Papua

JELAJAH SAMBAL NUSANTARA dari Aceh sampai Papua

Indonesia, apa pun santapannya, selalu ada sambal yang menemani. Walaupun berstatus kondimen, tanpa sambal, sajian hidangan tak lengkap. Tidak berlebihan jika banyak orang merasa belum makan puas tanpa merasakan sengatan pedas di mulut. Sambal memang tak terpisahkan dari kuliner Nusantara dari ujungAceh sampai Papua.Meskipun demikian, cabai yang kini banyak dikenal dan digunakan di Indonesia ternyata bukan asli tanaman Nusantara. Merujuk penjelasan Fadly Rahman, sejarawan makanan dari Departemen Sejarah Universitas Padjadjaran, Bandung, serta dua peneliti dari Universitas Bina Nusantara, Reggie Surya dan Felicia Tedjakusuma, dalam pertemuan via Zoom dengan Kompas untuk persiapan Jelajah Sambal Nusantara, menjelang akhir Juni 2024 lalu, diketahui bahwa cita rasa pedas dalam masakan Nusantara dapat dikategorikan semasa sebelum dan sesudah abad ke-16. Sebelum itu, rasa pedas dimasakan Tanah Air telah dikenal luas berkat penggunaan beberapa bahan, seperti jahe, andaliman, lada, cabe jawa, dan rempah-rempah asli Indonesia lainnya. Olahan makanan kala itu berwarna kuning, bukan merah. 

Capsicum sp atau cabai yang kita kenal saat ini sebelumnya telah ribuan tahun dimanfaatkan oleh masyarakat di Amerika Tengah dan Selatan. Kemudian, pada awal abad ke-16 itu. Seiring gencarnya perdagangan global kuno antar bangsa lewat jalur laut, cabai masuk ke Nusantara. Sejak saat itu, cabai menemukan surganya yang lain untuk tumbuh, berkembang, melahirkan varian lokal, seperti katokkon di Sulawesi Selatan, dan tentu saja, digandrungi. ”Masakan Nusantara pun menemukan warna barunya, yaitu merah,” kata Fadly. Kehadiran cabai memperkaya rasa pedas lokal. Kreasi kuliner percampuran dari pengaruh luar dan bahan asli kian menjadi di tangan masyarakat Nusantara. Aneka sambal lahir dna terus berkembang dengan menjaga kesedapan ataupun menikmati berbeda dari setiap daerah.  dan terus berkembang dengan menjaga kesedapan ataupunau ikan k kenikmatan berbeda dari setiap daerah. Asam udeung, tuktuk, balado, lengkong tamban, jokjok, buraq dengkek, cibiuk, tumpang, sambal pecel, matah, beberuk, lau kepah, rimbang, gami, tudai, cakalang, duo sale, lawar kaci,kaluku, kenari, pepaya, dan co lo-colo. Nama-nama itu baru sebagian dari deretan racikan sambal khas Nusantara dari Aceh sampai Papua. Selain cabai, pembuatan sambal di tiap daerah rata-rata menggunakan bahan lokal. Sambal di daerah pesisir, misalnya, biasa menggunakan aneka udang atecil dari laut. Lengkong tamban, sambal dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ada berkat melimpahnya ikan tamban di perairan setempat. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :