Rupiah Menguat Imbas Kebijakan The Fed
Pemangkasan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, sebesar 50 basis poin setelah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin berpotensi memberikan bantalan pada penguatan nilaitukar rupiah. Kebijakan itu diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit perbankan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan, Kamis (19/9/2024), juga dilaporkan melampaui level terbarunya diposisi 7.905, naik 0,97 perse dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya di posisi 7.829. Dalam konferensi pers Dewan Gubernur The Fed pada Rabu (18/9) waktu setempat atau Kamis dini hari, Gubernur The Fed Jerome Powell menyampaikan, suku bunga acuan dipangkas menjadi 4,75-5,25 persen. Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 5,25-5,5 persen sejak Juli 2023 lantaran inflasi yang menembus level tertinggi dalam 40 tahun terakhir.
Kepala Ekonom European Financial Group Bank di Zurich sekaligus mantan Wakil Gubernur Bank Sentral Irlandia Stefan Gerlach berpendapat, pemangkasan 50 basis poin (bps) oleh The Fed akan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral negara lain. ”Pemotongan setengah poin oleh The Fed akan berdampak pada keputusan suku bunga bank sentral lain dan menyebabkan pelaku pasar menyimpulkan bahwa ekonomi AS melambat, mungkin mengarah pada perlambatan global,” katanya dilansir dari kantor berita Bloomberg, Kamis. Senada, SeniorEconomist PT Samuel Sekuritas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menyebut, bagi sebagian ekonom, The Fed tidak harus memangkas suku bunga acuannya sebesar 50 bps. Sebab, hal itu dapat membuat pasar memersepsikan terjadinya resesi atau perlambatan ekonomi secara tajam (hardlanding). ”Dow Jones kemarin negatif, market takut dengan 50 bps. Artinya, potensi hard landing AS semakin besar,” katanya, di Jakarta, Kamis. Di sisi lain, keputusan The Fed akan mendukung bank sentral secara global, termasuk Bank Indonesia (BI), untuk mengelola keseimbangan antara pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, pemangkasan suku bunga acuan tersebut juga akan memberikan bantalan terhadap nilai tukar rupiah, memperkuat pemotongan suku bunga acuan BI sebesar 25 bps, serta memungkinkan berlanjutnya arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik. Ekonom senior Dradjad Wibowo mengatakan, The Fed terlihat berusaha di depan kurva (ahead of the curve) mengingat sangat jarang The Fed menurunkan suku bunga acuan 50 bps sekaligus. ”Sementara yang dilakukan BI memang konservatif, sesuai pakem. Karena itu, BI perlu memonitor pergerakan pasar dengan lebih tajam dan menyiapkan opsi lanjutan sejak dini. Hal ini karena pasar AS dan global kaget dengan penurunan bunga acuanTheFed yang lebih besar dari ekspektasi,” kata Dradjad yang juga ekonom Sustainable Development Indonesia (SDI) Penguatan rupiah Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada perdagangan Kamis, nilai tukar rupiah ditutup Rp 15.287 per dollar AS atau terapresiasi 0,6 persen dibandingkan dengan penutupan pasar sebelumnya. Ini sekaligus menjadi titik tertinggi rupiah selama tahun kalender 2024. Sebelumnya, BI melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 17-18 September 2024 memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 6 persen. (Yoga)
Tags :
#RupiahPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023