Fenomena Ekonomi Kosong di Tengah yang Merisaukan
Berita mengenai berkurangnya jumlah kelas menengah mengemuka di tengah transisi pemerintahan. Fenomena ini layak diperhatikan karena hanya simtom dari persoalan struktural yang jauh lebih merisaukan, yaitu fenomena ekonomi kosong di tengah. Jika tidak segera ditangani melalui kebijakan yang tepat, visi Indonesia Emas 2045 akan berubah menjadi Mimpi (Buruk) Indonesia Cemas 2045. Meski mengusung tema keberlanjutan kebijakan, pemerintah baru harus berani merombak kebijakan agar terjadi transformasi sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045 yang pada waktunya akan menjadi undang-undang.
Data BPS menunjukkan penurunan jumlah kelas menengah dengan pengeluaran Rp 1,2 juta hingga Rp 9,9 juta per bulan dalam lima tahun terakhir, dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Sekitar 10 juta penduduk jatuh dari kelompok menengah menjadi kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class), yang pada 2019 berjumlah 129 juta jiwa, pada 2024 naik menjadi 138 juta jiwa. Jika kelas menengah dan menuju kelas menengah digabungkan, jumlahnya 66,35 % dari total penduduk Indonesia. Kelompok ini menjadi penting secara ekonomi karena menyumbang 81,49 % total konsumsi masyarakat, yang akan berimplikasi pada penerimaan PPN.
Pola kebijakan kita terlalu bias pada kelompok atas serta cenderung populis. Lima tahun terakhir ini, pemerintah memberi insentif besar pada kelompok atas melalui berbagai konsesi sehingga kekuatan bisnis dan politiknya menguat. Di sisi lain, pemerintah juga sangat royal memberikan berbagai bantuan dan program sosial kepada kelompok bawah. Peta penabung menunjukkan distribusi aset keuangan penduduk sangat timpang: secara jumlah penabung kecil mendominasi, tapi secara nominal dikuasai penabung besar yang jumlahnya hanya 0,02 % dari total penabung.
Peta penabung ini juga menjadi indikator bagi situasi sektor keuangan secara umum, di satu sisi masih kecil (dangkal) dan di sisi lain tidak merata. Sektor keuangan harus diperdalam secara sistematis agar distribusinya juga semakin merata. Berita berkurangnya jumlah kelas menengah perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, bahwa struktur ekonomi kita memang rapuh, kelompok menengahnya kosong. Jika pemerintah ke depan tidak mengoreksi arah kebijakan ini, maka jangan berharap pertumbuhan ekonomi bisa naik menjadi 8 %. Untuk tumbuh 5 % saja perlu insentif lebih besar. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023