Strategi Indonesia Menembus Pasar Afrika dengan Transfer Teknologi
Pupuk berbahan batubara buatan warga Indonesia, Raden Umar Hasan Saputra, diminati di Afrika. Enam negara di Afrika telah meminta transfer teknologi pembuatan pupuk tersebut, diikuti pembangunan pabrik berkapasitas jutaan ton per tahun. Transfer teknologi dinilai sebagai celah besar untuk masuk pasar Afrika yang saat ini dikuasai China. Tingginya minat Afrika terhadap pupuk batubara itu terlihat dalam ajang Forum Indonesia Afrika (IAF) 2024. Dari lima kepala negara yang hadir di IAF, dua di antaranya langsung menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk transfer teknologi pembuatan pupuk batubara tersebut. Kedua negara itu adalah Liberia dan Zimbabwe. Adapun Eswatini langsung meminta pembangunan pabrik di lokasi. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Kementan Liberia, PT Saputra Global Harvest sebagai produsen pupuk batubara, dan Dubes RI untuk Nigeria, Selasa (3/9) di Nusa Dua, Badung, Bali.
Kerja sama ini merupakan bagian dari IAF 2024 yang berlangsung 1-3 September 2024. ”Potensi nilai kesepakatan bisnis dari IAF ini 5 juta USD,” kata Saputra, pencipta pupuk batubara sekaligus Komisaris Utama PT Saputra Global Harvest. Di Indonesia, pupuk batubara itu menggunakan merek Futura. Sementara di luar negeri, pupuk yang telah dipatenkan di AS itu disebut coal fertilizer. Pupuk ini hasil penelitian tentang aktivasi unsur hara dalam batubara yang dilakukan Saputra selama tujuh tahun. Pupuk itu disebutkan mempunyai keunggulan memperbaiki unsur hara. Saat ini, pabrik pupuk batubara telah berjalan di tiga negara di Afrika, yaitu Nigeria, Botswana, dan Malawi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023