Pudarnya Belanja Masyarakat di Ritel Modern
Perilaku belanja masyarakat pelan-pelan berubah. Troli, tas belanja, dan impulsive buying di ritel modern bisa menjadi indikator. Perkembangan teknologi dan pelemahan daya beli menjadi penyebab. Transformasi belanja masyarakat dari luring ke daring pertama kali terjadi di Inggris pada 1979. Waktu itu, Michael Aldrich dari Redifon Computers menyambungkan televisi berwarna dengan computer yang mampu memproses transaksi secara real time melalui kabel telepon. Setelah ia memasarkan sistem belanja daring itu pada 1980, belanja daring menyebar ke sejumlah negara lain. Salah satunya untuk memasarkan mobil di Perancis. Pada 1992, muncul toko buku daring pertama Book Stacks Unlimited yang dibuat Charles Stack, yang berkembang menjadi Books.com.
Dua tahun kemudian, Jeff Bezos membuat situs Amazon.com. Toko-toko daring terus tumbuh seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Pelan-pelan kemajuan perdagangan secara elektronik (e-dagang) itu mengubah perilaku belanja masyarakat. Pandemi Covid-19 yang muncul pada akhir 2019 semakin mempercepat masyarakat mengadopsi belanja daring. Pascapandemi, masyarakat makin akrab dengan belanja daring, bahkan memadukan dengan belanja luring. Di tengah kondisi itu, ritel modern mulai kehilangan sesuatu yang berharga. Di sisi lain, ritel modern mulai menemukan jalan bisnis yang mampu mengakomodasi perubahan perilaku belanja masyarakat.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey, Rabu (14/8) menuturkan, dalam satu dekade terakhir, masyarakat mulai meninggalkan kebiasaan adu troli di pusat-pusat perbelanjaan. Dulu, rerata keluarga yang berbelanja di hipermarket atau supermarket mengambil 2-4 troli. Setiap anggota keluarga, minimal ayah dan ibu, berkeliling mencari kebutuhan masing-masing. Setelah itu, mereka berkumpul di kasir atau area dekat kasir untuk membayar aneka barang belanjaan. ”Kami menyebutnya silaturahmi troli keluarga,” ujar Roy dalam Gambir Trade Talk #15 bertajuk ”Transformasi Ritel Modern di Era Digitalisasi: Peluang dan Tantangan” yang digelar Badan Kebijakan Perdagangan di Jakarta, Rabu (14/8).
Roy juga mengisahkan, 60 % dari seluruh belanjaan di troli mereka merupakan barang-barang yang tidak masuk dalam daftar rencana belanja. Peritel kerap menyebutnya sebagai barang-barang hasil impulsive buying atau pembelian spontan. ”Impulsive buying inilah yang dahulu menopang kinerja ritel. Sekarang, impulsive buying dan adu troli mulai pudar. Konsumen mulai belanja sesuai kebutuhan,” katanya. Bahkan, mulai banyak orang yang datang ke mal tidak untuk berbelanja. Mereka hanya sekadar melihat produk, kemudian membelinya secara daring karena lebih murah atau ada promo yang sangat menarik. Banyak pengunjung mal juga lebih memilih sekadar bersantai. Mereka bisa berjam-jam di mal untuk makan, ngopi, menonton bioskop, dan menikmati wahana permainan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023