Michael Anthony Kwok, Tarian Jari Memori Auditori
Michael Anthony Kwok (21) terlahir istimewa. Ia tunanetra dan menyandang autisme. Berbekal anugerah memori auditori, jari-jari Michael bak menari di atas tuts piano dan menghipnotis siapa pun yang mendengarnya, pada Rabu (17/7) siang. Michael ditemani ibunya, Mentalia Kurnia (64), di tempatnya les piano di kawasan Imam Bonjol, Jakarta. Tiga hari sebelumnya, Minggu (14/7), ia menjuarai kompetisi piano klasik Indonesia International Piano Competition (IIPC) 2024 di kategori Profesional Senior. ”Masih mengantuk dia itu gara-gara kesenangan menang kemarin. Setiap malam dia bangun dan duduk-duduk di kamarnya sambil senyum-senyum girang” ujar Lia, sapaan ibunya. Kompetisi bergengsi itu diikuti ratusan peserta dari 10 negara dan melibatkan pakar piano klasik ke- las dunia sebagai juri dari delapan negara.
Para juri itu, antara lain, Andreas Frölich (Jerman), Pascal Nemirovski (Inggris), dan Rachel Naomi Kudo (AS). Michael memiliki kondisi khusus. Ia tunanetra dan menyandang autisme. Untuk bermain piano, ia berlatih dengan metode khusus berbekal anugerah yang dimilikinya sejak lahir. Salah satu keistimewaan Michael adalah kemampuannya mengingat berbagai macam bunyi dan nada secara rinci. Berdasar ingatan itu, ia memainkannya kembali secara presisi di atas tuts piano. Ingatan akan suara itu disebut dengan memori auditori (auditory memory) setara dengan kemampuan memori fotografik pada orang-orang tertentu, yakni ketika mereka memiliki ingatan kuat berdasarkan apa yang dilihatnya. Disebut juga dengan memori visual.
Dengan keistimewaan memori auditori itu, Michael tak perlu membaca atau menghafal partitur lagu atau repertoar. Guru-guru Michael biasanya menyiapkan bahan audio lagu atau repertoar yang akan dipelajari. Mereka juga memoles permainan Michael yang bersemangat dan kurang memperhatikan teknik artikulasi antarnot yang dimainkan. Setelah mendengar beberapa kali rekaman itu, Michael berlatih di rumah selama beberapa hari. Ia biasanya berlatih selama dua jam seusai makan malam. Dalam berkarya, Michael dibimbing oleh dua guru piano, yakni Randy Ryan dan Ivana Chandra. Randy melatih Michael di tempat lesnya di kawasan Imam Bonjol, sedang Ivana mendampingi Michael sejak usia belia. Mereka juga hadir saat penobatan juara kompetisi IIPC 2024 di Usmar Ismail Hall. Mendampingi Michael perlu ketelatenan.
Rabu siang itu, Randy menyimak permainan piano Michael. ”Mainnya pelan-pelan saja kalau legato, ya. Tuts piano jangan ditekan terlalu keras, pelan-pelan saja” ujar Randy kepada Michael. Mengajari Michael, menurut Randy, memberikan tantangan tersendiri. Kondisi Michael yang tak bisa melihat membuatnya harus menggunakan partitur lagu yang ditulis dalam bentuk Braille. Menurut Lia, hal itu terlalu riskan dan rumit bagi Michael. Dengan pola latihan sekarang, yang mengandalkan ingatan auditori, Michael lebih mudah memainkan nada. Seperti pada malam penobatan juara, Michael ”menghipnotis” penonton. Jari-jemari Michael seolah menari, terkadang sangat cepat, kadang pelan, mengalun membawakan lagu ”Danzas Argentinas”, Opus 2 karya Alberto Ginastera. Dengan keistimewaannya, Michael menerobos keterbatasan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023