;

Ritel Modern Tergerus Daya Beli dan Barang Ilegal

Ekonomi Yoga 15 Aug 2024 Kompas
Ritel Modern Tergerus Daya Beli dan Barang Ilegal

Kinerja ritel modern tengah tergerus pelemahan daya beli serta peredaran barang ilegal dan bekas. Kondisi itu menjadi beban bagi para peritel modern di tengah tantangan perubahan perilaku belanja konsumen di era perkembangan teknologi digital. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan kinerja ritel modern semester I-2024 hanya tumbuh 4,8-4,9 % secara tahunan. Pada semester II-2024, pertumbuhannya diperkirakan stagnan, bahkan berpotensi turun. Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey, Rabu (14/8) mengatakan, perlambatan pertumbuhan kinerja ritel pada 2024 dipengaruhi pelemahan daya beli serta peredaran barang ilegal dan bekas. Lesunya daya beli masyarakat itu terlihat dari sejumlah indikator.

Salah satunya adalah deflasi yang terjadi tiga bulan beruntun. Dari data BPS, Indonesia mengalami deflasi pada Mei, Juni, dan Juli 2024 masing-masing 0,03 %, 0,08 %, dan 0,18 %. Menurut Roy, deflasi tersebut lebih mencerminkan penurunan permintaan, bukan kelebihan penawaran. Permintaan turun lantaran banyak pekerja yang mengalami PHK, yakni sekitar 30.000 orang sejak awal 2024. Selain itu, jumlah pekerja informal juga semakin bertambah. ”Mereka yang di-PHK tidak akan memprioritas belanja makanan dan minuman ketimbang belanja lainnya. Para pekerja informal juga kurang lebih sama,” katanya dalam Gambir Trade Talk #15 bertajuk ”Transformasi Ritel Modern di Era Digitalisasi: Peluang dan Tantangan” yang digelar Badan Kebijakan Perdagangan, Rabu, di Jakarta.

”Selain deflasi, pelemahan daya beli juga terindikasi dari tergerusnya tabungan kelas menengah. Tidak mengherankan jika muncul istilah mantab atau makan tabungan,” kata Roy. Di samping lesunya daya beli, Roy juga menyebutkan peredaran barang ilegal dan bekas turut menggerus kinerja ritel modern. Barang-barang impor tersebut masuk ke Indonesia tanpa terpantau dengan baik. Barang-barang itu juga dijual dengan harga relatif murah, baik secara daring maupun luring. Aprindo berharap ada penguatan daya beli, terutama bagi kelas menengah dan bawah. Di sisi lain, pemerintah juga perlu meningkatkan pengawasan perdagangan barang-barang ilegal dan pakaian bekas agar tidak merugikan pelaku usaha dalam negeri. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :