Surplus Neraca Dagang Berpotensi Menyusut
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2024 sebesar US$ 2,39 miliar, turun dibandingkan Mei 2024 yang sebesar US$ 2,93 miliar. Surplus ini merupakan yang terkecil sejak Februari 2024 dikarenakan pertumbuhan ekspor tahunan tertinggal dari pertumbuhan impor. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, seiring dengan surplus perdagangan yang terus menyusut, pelebaran defisit neraca transaksi berjalan pada 2024 diproyeksi melebar dari -0,14% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2023 menjadi -0,94% dari PDB. Di sisi lain, kebijakan hilirisasi diharapkan dapat mengurangi ketergantungan transaksi berjalan Indonesia terhadap harga komoditas sampai batas tertentu, sehingga membatasi defisit. Menurutnya, defisit transaksi berjalan yang melebar diperkirakan akan berpotensi memberikan tekanan pada rupiah dan cadangan devisa, terutama di tengah ketidakpastian pasar global yang disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik. Pada akhir tahun 2024, Josua memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan berkisar antara Rp 15.900 hingga Rp 16.200. Langkah ini diantisipasi untuk mendorong sentimen risk-on, menarik arus modal masuk dan pada akhirnya mendukung nilai tukar rupiah.
Tags :
#Neraca PerdaganganPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023