;

Desa Wisata, Alternatif Piknik Warga

Desa Wisata, Alternatif Piknik Warga

Desa wisata menjadi tujuan alternative masyarakat untuk piknik. Sekitar 6.000 desa wisata tercatat di seluruh provinsi Indonesia. Tanggapan dan harapan masyarakat terhadap desa wisata sebagai berikut : “Kesederhanaan warganya (menjadi keunikan tersendiri) karena di desa jauh dari hal-hal mewah. Makanan seadanya, tetapi terasa mewah karena mereka ramah sekali. Itu tidak ada di tempat lain, di tempat aku tinggal sekarang. Semoga pemerintah memfasilitasi infrastruktur yang memadai karena banyak desa wisata berada di pelosok sehingga terkadang kurang terjamah. Desa wisata perlu terus dikembangkan agar tak kalah pamor dengan tempat wisata arus utama lainnya,” ujar Dellaneira Sitakara (27) karyawan swasta di Jakarta

Menurut Sigit Andrianto (30) dosen perguruan tinggi di Surabaya, Desa wisata bisa menjadi potensi ekonomi warga untuk warga jika dikelola dengan tepat. Tahun 2018, ada ratusan desa wisata di Jateng dan jumlahnya terus bertambah. Sayangnya, tak diimbangi strategi promosi yang tepat sehingga desa wisata yang muncul hanya bersifat musiman. Saya harap ada strategi yang tepat dalam pengembangan desa-desa wisata di Indonesia. Jika dikelola dengan baik dan terencana serta berorientasi jangka panjang, desa wisata bisa membawa kesejahteraan bagi masyarakat desa.

“Selalu gembira ke desa wisata, enggak pernah bosan walau berulang. Biasanya membeli sesuatu dan menikmati apa pun yang ditawarkan di sana. Setiap desa punya kekhasan masing-masing. Harapannya, pemerintah, kelompok sadar wisata, dan warga setempat memiliki perhatian khusus pada kebersihan, kelestarian alam, sumber air, dan taman/pohon. Aspek itu jadi magnet pengunjung betah jalan-jalan dan tinggal lebih lama. Semoga ada pelatihan berkelanjutan bagi warga setempat untuk pengelolaan fasilitas wisata dan produksi barang khas,” ujar Kartika Paramita Klara (37) guru di Blitar, Jatim. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :