Lesu Darah Industri Kesehatan, Apa Saja Penyebabnya
SETELAH jumlah kasus Covid-19 berkurang, momentum meraup untung pelaku usaha di industri farmasi turut memudar. Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Elfiano Rizaldi menyatakan pertumbuhan industri belum juga menyentuh angka dua digit seperti lima tahun lalu. "Masih di angka 7-8 persen sekarang," katanya kepada Tempo, kemarin, 8 Juli 2024.
Berakhirnya pandemi berkontribusi pada perlambatan pertumbuhan industri kesehatan. Elfiano mencatat penurunan permintaan terhadap sejumlah produk, terutama multivitamin. Pada 2020, permintaan multivitamin sempat tumbuh tiga kali lipat lantaran berguna menjaga daya tahan tubuh agar terhindar dari virus corona. Belakangan, pelemahan daya beli masyarakat turut berkontribusi menghambat laju industri.
Tahun ini tantangannya makin berat karena nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok. Dari data kurs jual Bank Indonesia per 8 Juli 2024 tampak US$ 1 sudah setara dengan Rp 16.393. Padahal, pada awal tahun, para pelaku usaha menyiapkan modal kerja dengan asumsi nilai tukar sebesar Rp 15.000-15.500 per dolar AS.
Menurut Elfiano, pergerakan kurs sangat mempengaruhi industri yang masih mengimpor bahan baku dan pendukung ini. Sekitar 90 persen bahan produksi farmasi masih impor. Jika nilai tukar tak kunjung menguat dan bergerak ke kisaran Rp 16.500 hingga akhir tahun, dia mengungkapkan ada potensi kenaikan harga jual produk farmasi. "Kita tunggu situasinya, mudah-mudahan tidak terus turun," tuturnya. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023