Wayan Wardika, Bapak Kunang-kunang dari Taro
Dari sebuah laboratorium kecil, I Wayan Wardika (46) membangun mimpi, agar cahaya kunang-kunang kembali menyinari kawasan Desa Taro dan sekitarnya di Kabupaten Gianyar. Berbekal impiannya itu, Wardika memberikan sebagian kehidupannya untuk mengonservasi dan membiakkan kunang-kunang di Rumah Konservasi Kunang-kunang di Tegal Dukuh Camp, Desa Taro. ”Karena kunang-kunang adalah cahaya semesta,” kata Wardika kala bersua di Tegal Dukuh Camp, Gianyar, Bali, Senin (17/6). ”Semasa saya kecil, di desa belum ada listrik. Hampir tak ada cahaya buatan kecuali cahaya bulan, lampu (minyak) sentir, dan kunang-kunang,” ujar alumnus D4 Pariwisata Universitas Udayana, Bali, itu. Kunang-kunang menjadi bahan karya tulis ilmiah kelompok Wardika, yang mengantarkan Wardika dan timnya memenangi lomba karya tulis ilmiah inovatif produktif yang diadakan Ditjen Pendidikan Tinggi di Jakarta tahun 2000.
Wardika dan timnya mengangkat tema tentang pemanfaatan kunang-kunang sebagai atraksi wisata alternatif untuk mendukung ekoturisme di Ubud, Gianyar. Menurut Wardika, ketertarikan mengangkat kunang-kunang sebagai atraksi wisata alami dalam karya tulisnya itu juga didukung antusiasme turis Jepang terhadap keberadaan kunang-kunang di seputaran Jalan Raya Andong, Peliatan, Ubud, yang masih asri saat itu. ”Lomba karya tulis itu menjadi titik awal saya mengenalkan kunang-kunang,” ujar anak pertama dari lima bersaudara itu. Adanya kunang-kunang di sekitar kita, menandakan ekosistem masih bagus dan lingkungan setempat berkualitas sangat baik. Dalam buku Bring Back the Light, Perjalanan Hidup Pelestarian Kunang-kunang sebagai Cahaya Semesta, yang ditulis Wardika dan diluncurkan di Tegal Dukuh Camp, Minggu (9/6) disebutkan, kunang-kunang juga dikenal sebagai serangga karismatik karena memiliki kemampuan menghasilkan cahaya sendiri atau bioluminesensi.
Wardika menjadi Ketua Pokdarwis Desa Wisata Taro, Tegallalang, mulai 2019. Berbekal pengalaman dan pemahamannya tentang pariwisata, Wardika menguatkan pembangunan wisata desa berbasis ekoturisme di Desa Taro yang berada di kawasan Ubud. Desa Taro meraih berbagai penghargaan sebagai desa wisata. ”Astungkara, Desa Wisata Taro menjadi salah satu Desa Wisata Terbaik yang diakui UNWTO (Organisasi Pariwisata Dunia PBB) sejak 2023,” kata Wardika. Wardika menginisiasi wisata konservasi kunang-kunang di desa tersebut dengan melibatkan warga desa setempat dan memanfaatkan area sawah yang masih asri. Wardika juga memanfaatkan lahan milik keluarganya di Tegal Dukuh dengan membangun fasilitas kemah bernuansa alam, yakni Tegal Dukuh Camp.
Wardika mengupayakan konservasi kunang-kunang dengan membuat fasilitas pembiakan dan menjalankan riset tentang kunang-kunang. Wardika dan tim penelitinya membuat 8terarium dan kotak-kotak kaca sebagai tempat berbiak kunang-kunang dan bertumbuhnya larva di laboratorium Tegal Dukuh Camp. Wardika juga membuat PT Wisesa Inti Semesta (Wise Organic) dan melibatkan keluarganya untuk menjalankan aktivitas ekowisata dengan memanfaatkan sumber daya lokal, misalnya membuat gula aren, minyak kelapa, dan virgin coconut oil(VCO), karena di desaitu masih banyak pohon aren dan juga kelapa. ”Mimpi saya itu, dan selalu menjadi energi saya setiap pagi, suatu saat nanti alam kita kembali dipenuhi kunang-kunang. Setiap hari kami bisa melepasliarkan banyak sekali kunang-kunang,” kata Wardika. (Yoga)
Postingan Terkait
Kopdes Merahputih mendapat dukungan Bank Mandiri
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023