;

NERACA PERDAGANGAN : SURPLUS DALAM TREN MENYEMPIT

Ekonomi Hairul Rizal 20 Jun 2024 Bisnis Indonesia
NERACA PERDAGANGAN : SURPLUS DALAM TREN MENYEMPIT

Badan Pusat Statistik melaporkan neraca dagang Indonesia pada Mei 2024 tetap mencatatkan surplus US$2,93 miliar atau mencetak surplus 49 bulan secara berturut-turut, meskipun cenderung terus menyempit. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah mengatakan bahwa tren penyusutan surplus itu terlihat dari data Januari—Mei 2024 yang mencetak surplus sebesar US$13,06 miliar atau menurun 20,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak US$16,47 miliar. “Secara kumulatif Januari—Mei 2024, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$13,06 miliar atau mengalami penurunan US$3,41 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu,” katanya dalam konferensi pers, Rabu (19/6). Secara bulanan, Habibullah menyatakan nilai ekspor pada Mei 2024 menembus US$22,33 miliar atau meningkat 13,82% dibandingkan dengan periode April 2024. Sayangnya, ekspor Indonesia secara tahunan ternyata turun 2,86% daripada bulan yang sama tahun lalu tercatat US$21,71 miliar. Menurutnya, peningkatan kinerja ekspor pada Mei 2024 didorong oleh meningkatnya ekspor non-migas, utamanya komoditas mesin dan perlengkapan elektronik serta bagiannya sebesar 26,66% dengan andil 1,34%. Selain itu, bijih logam terak dan abu sebesar 25,96% dengan andil 1,09%, kendaraan dan bagiannya sebesar 26,8% dengan andil 1%.

Secara terperinci, nilai ekspor batu bara secara bulanan tercatat turun menjadi US$2,50 miliar atau sebesar 4,04% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sedangkan secara tahunan juga anjlok 22,19%, dari tahun sebelumnya sebanyak US$3,01 miliar. Penurunan ekspor juga terjadi pada komoditas CPO dan turunannya yang hanya mencapai US$1,08 miliar pada Mei 2024 atau turun sebesar 22,19% dari bulan sebelumnya. Sebaliknya, nilai impor pada Mei 2024 mencapai US$19,40 miliar atau naik 14,82% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara tahunan, nilai tersebut tercatat turun sebesar 8,83%. Adapun nilai impor migas secara bulanan tercatat mencapai US$2,75 miliar atau turun sebesar 7,91% pada Mei 2024, sementara nilai impor nonmigas mencapai US$16,65 miliar atau meningkat 19,7% (month-to-month/MtM). Dalam kesempatan lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang juga Ketua Tim Pengarah Satgas Peningkatan Ekspor Nasional menyatakan surplus US$2,93 miliar masih melanjutkan tren surplus 49 bulan berturut-turut. “Surplus neraca perdagangan didukung surplus sektor nonmigas sebesar US$4,26 miliar. Namun, [nilai surplus] tereduksi oleh defisit sektor migas sebesar US$1,33 miliar,” katanya dalam siaran pers.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Khamdani meminta pemerintah meningkatkan pendampingan dan fasilitasi ekspor ke negara nontradisional guna menggenjot kinerja ekspor Indonesia. Pada sisi lain, Shinta mengungkap bahwa kinerja ekspor manufaktur cukup sulit untuk ditingkatkan. Selain permintaan yang lemah dan daya saing ekspor Indonesia terganggu akibat logistik perdagangan yang makin mahal, dia menilai sektor itu manufaktur makin tertekan karena depresiasi nilai tukar rupiah yang makin dalam. Kondisi itu telah berimbas pada produktivitas ekspor manufaktur lantaran menyebabkan beban pokok produksi naik signifi kan, mengingat industri manufaktur umumnya masih harus mengimpor bahan baku atau penolong produksi.

Download Aplikasi Labirin :