;

GELISAH KARENA RUPIAH

Ekonomi Hairul Rizal 20 Jun 2024 Bisnis Indonesia (H)
GELISAH KARENA RUPIAH

Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat lebih dari 6% sejauh ini, telah memukul banyak lini perekonomian, baik ketahanan fiskal dan moneter, maupun dunia usaha. Bagi pemerintah, penurunan nilai tukar rupiah bakal membuat belanja subsidi dan pembayaran bunga utang akan membengkak. Bagi bank sentral, cadangan devisa akan terkuras untuk mengintervensi pasar demi menstabilkan rupiah. Adapun, sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, bakal menanggung beban produksi lebih besar. Tak ayal, sejumlah korporasi di dalam negeri pun keras memutar otak untuk mengamankan kinerja bisnisnya. Contohnya PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) yang malah sudah mencatatkan rugi Rp304 miliar pada kuartal I/2024 akibat pelemahan rupiah di tengah fluktuasi harga bahan bakar pesawat. Melalui keterangan resmi, Direktur Utama AirAsia Veranita menuturkan bahwa jumlah tersebut mencakup sekitar 39% dari total kerugian perusahaan pada kuartal lalu. Dalam catatan AirAsia, rata-rata kurs rupiah Rp15.853 pada kuartal I/2024 melemah signifikan dari rata-rata kurs pada kuartal I/2023 yang hanya Rp15.062 per dolar AS.

Menurut Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia Adhi S. Lukman, potensi keuntungan eksportir makanan dan minuman akan terganjal harga bahan baku dan ongkos logistik yang meningkat. Kemerosotan nilai tukar rupiah juga mendatangkan risiko bagi fiskal negara. Dengan nilai tukar rupiah yang sudah berada di kisaran Rp16.400 per dolar AS saat ini, rata-rata kurs rupiah sepanjang tahun berjalan Rp15.864 per dolar AS. Angka ini sudah meleset jauh dari asumsi kurs rupiah dalam APBN 2024 yang dipatok Rp15.000 per dolar AS.Rupiah yang lebih lemah di satu sisi dapat menambah pendapatan negara, khususnya dari penerimaan yang terkait dengan aktivitas perdagangan internasional. Sisi pembiayaan anggaran pun terkena dampak, khususnya penambahan penarikan pinjaman luar negeri, baik pinjaman tunai maupun pinjaman kegiatan, penerusan pinjaman/subsidiary loan agreement(SLA), dan pembayaran cicilan pokok utang luar negeri. Kalangan ekonom menilai depresiasi rupiah bisa mendorong BI kembali menaikkan suku bunga, apalagi Federal Reserve, yang merupakan bank sentral paling berpengaruh di dunia, sudah melempar sinyal kenaikan suku bunga hanya sekali pada tahun ini. Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan bahwa jika dihitung secara fundamental, ekuilibrium rupiah saat ini sudah di atas Rp16.000, walaupun pergerakannya akan sangat dinamis, bergantung pada perkembangan eksternal dan internal.

Tags :
#Rupiah
Download Aplikasi Labirin :