;

Rupiah Jeblok, Kinerja Industri Bisa Anjlok

Ekonomi Hairul Rizal 19 Jun 2024 Kontan (H)
Rupiah Jeblok, Kinerja Industri Bisa Anjlok

Rupiah keok, terkapar di level Rp 16.412 per dollar Amerika Serikat (AS) pada pekan lalu. Meski di pasar spot, rupiah sedikit berotot ke Rp 16.370 (18/6), performa rupiah kali ini sudah mendekati masa krisis 1997/1998. Saat itu, nilai tukar rupiah jatuh ke level terendah. 17 Juni 1998, kurs rupiah di pasar uang spot antarbank Jakarta ditutup pada Rp 16.900 per dollar AS. Saat perdagangan pada 22 Januari 1998, rupiah bahkan menyentuh level Rp 17.000 per dollar AS. Dus performa mata uang garuda ini membuat tekanan industri manufaktur semakin menjadi-jadi. Tak hanya menghadapi rupiah yang loyo, industri manufaktur juga harus berhadapan dengan loyonya permintaan pasar domestik serta ekspor. Pelaku industri harus menanggung lonjakan beban biaya produksi dan biaya perusahaan akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Industri yang berutang dollar AS, harus menghadapi kenaikan utang akibat kurs dan cicilan. Pun dengan industri yang mengandalkan bahan baku impor. Mereka tertohok denggan kenaikan biaya impor. Salah satu industri yang sudah mengeluh adalah industri makanan minuman.Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyebut, pelemahan rupiah akan menggerus laba, lantaran sebagian bahan baku utama produk makanan dan minuman  masih harus diimpor.

Antara lain: kacang kedelai, susu, garam, gula, jagung, hingga tepung terigu. Koreksi rupiah membuat harga bahan baku makin mahal, sehingga biaya produksi membengkak. "Di tengah pelemahan rupiah, biaya pengapalan luar negeri juga naik bahkan tiga sampai empat kali lipat," ujar Ketua Umum Gapmmi, Adhi S. Lukman, Selasa (18/6). Indonesia Packaging Federation (IPF) juga menyebut, pelemahan rupiah sudah terasa dampaknya bagi industri kemasan. Porsi impor bahan baku kemasan mencapai 50%. Alhasil, harga kemasan plastik terkerek sekitar 3%-5% atau bahkan lebih. Alhasil, "Strategi kami dengan membatasi impor bahan baku sesuai order saja, sehingga risiko kerugian akibat pelemahan kurs bisa dikurangi," ujar Business Development Director IPF Ariana Susanti, (18/6). Gabungan Perusahaan Elektronik (Gabel) bilang, mengerek harga jual memang menjadi cara paling lumrah dan mudah untuk mengantisipasi pelemahan rupiah.

Namun, upaya ini tidak mudah dilakukan karena pasar domestik belum stabil. "Bagi kami tak ada kurs rupiah yang ideal, yang penting bergerak stabil," imbuh Sekretaris Jenderal Gabel, Daniel Suhardiman, Selasa (18/6). Perkumpulan Perusahaan Pendingin Refrigerasi Indonesia (Perprindo) mengakui, tren koreksi rupiah membuat ongkos produksi pendingin refrigerasi, seperti lemari es dan air conditioner (AC) menjadi lebih mahal. Pelemahan rupiah juga mengancam industri alat berat nasional, mengingat 40% bahan baku masih impor. Biaya produksi alat berat meningkat. "Beberapa perusahaan bakan siap menaikkan harga jual berkisar 1,5%-3%," imbuh Ketua Umum Hinabi Giri Kus Anggoro, Selasa (18/6). Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengakui, kurs rupiah saat ini sudah sangat sulit ditoleransi pengusaha.

Download Aplikasi Labirin :