;

Kolaborasi Pemerintah-Swasta Dinanti

Kolaborasi Pemerintah-Swasta Dinanti

Seni tradisional yang terpinggirkan dapat memperpanjang usianya tak lepas dari beragam bantuan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Sejumlah perusahaan telah melakukan terobosan pada sektor kebudayaan, tetapi tugas terbesar memelihara kebudayaan tetap pada negara. Kolaborasi pemerintah dan swasta dinantikan. PT Djarum, misalnya, menjadikan budaya sebagai salah satu fokus program CSR-nya. Program yang dinamai Bakti Budaya Djarum Foundation itu berupaya memperbaiki ekosistem kebudayaan di Indonesia dari hulu hingga hilir. ”Indonesia begitu beragam dengan kebudayaannya. Banyak seniman bertalenta, para maestro yang tak lagi menghitung keuntungan ketika menghidupi seninya,” ujar Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian, di Jakarta, Kamis (20/6). Hal itu mendorong Djarum turut berfokus menggarap budaya, termasuk seni pertunjukan tradisional.

Djarum juga membangun Galeri Indonesia Kaya yang memberi panggung kepada seniman dan jadi ruang arsip kebudayaan Nusantara, mulai dari alat musik tradisional, pakaian adat, hingga kuliner. Adapun besaran dana CSR tiap tahun berbeda. Hal serupa dilakukan PT Bank Central Asia Tbk (BCA). EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan, bantuan diberikan pada sektor budaya karena budaya merupakan identitas suatu bangsa. Program-programnya menyasar pula pada pengenalan serta pembinaan budaya bagi anak-anak. Filantropi guna mendukung budaya lokal juga dilakukan, antara lain, pada pertunjukan ”Sudamala: Dari Epilog Calonarang” yang dihelat di Pura Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, tahun lalu.

”Ketika ada penghasilan, teman-teman dari sanggar yang kami support untuk melakukan aktivitas pergelaran bisa spending, apalagi 57 % pertumbuhan ekonomi Indonesia disumbang rumah tangga,” ucap Hera. Sepanjang 2023, BCA mengucurkan Rp 153,2 miliar untuk CSR di bidang pendidikan, diikuti budaya, lingkungan, kesehatan, dan pengembangan komunitas. Sejumlah perusahaan lain juga memberi ”panggung” bagi seniman tradisional meski bukan menjadi program utama. Budayawan Butet Kartaredjasa berpendapat, tugas utama menjaga dan memelihara kebudayaan ada pada negara, bukanCSR. Dalam persentase, 70 % tugas negara, sisanya baru swasta. Selama ini, bantuan yang diberikan mayoritas masih berupa pendanaan. Padahal, aspek terpenting adalah pendampingan tata kelola seni. ”Supaya kawan-kawan seniman tradisional bisa mengukur dan punya bargaining position yang setara, terhormat. Mereka harus dibiasakan supaya terlatih dan punya martabat, harga diri,” ujar Butet. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :