;

Warga Miskin Bertahan di Tengah Keterbatasan

20 Jun 2024 Kompas
Warga Miskin
Bertahan
di Tengah
Keterbatasan

Rohani (53) melayani konsumen di warungnya di Gang VI, RT 022 RW 017, Kelurahan Penjaringan, Jakut, pada Rabu (19/6), untuk memenuhi kebutuhannya setelah suaminya meninggal tiga tahun lalu. Di rumah 4 x 6 meter, Rohani bermukim, bersama anak yang berkeluarga. Walau tinggal berdesakan, sekarang sudah ada akses berupa jalan beton. Air pun sudah mengalir lebih lancar. ”10 tahun lalu, air sulit kami dapat. Jalan rusak karena hanya dibangun dengan bahan seadanya,” kata Rohani. Wakil Ketua RT 022 Armen mengatakan, ada 300 keluarga yang tinggal di kawasan tersebut. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai pedagang, nelayan, dan buruh. Warga selalu waswas akan ada kebakaran. Terakhir, api mengamuk pada 2019. Saat itu, 11 rumah terbakar. ”Karena itu, sejak awal saya mengimbau warga agar menjaga sistem kelistrikan rumahnya untuk mencegah korsleting,” katanya.

Aspirasi warga terus disuarakan untuk membenahi permukiman ke musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). ”Beberapa aspirasi dipenuhi, seperti pembangunan gorong-gorong dan jalan,” katanya. Hidup dalam keterbatasan juga dijalani Eta Zulkifli (57), warga RT 005 RW 012, Kelurahan Tanah Tinggi, Jakpus. Di rumah seluas 23 meter persegi, dia tinggal bersama 10 orang dari tiga keluarga. Jika ingin buang air, dirinya menggunakan kamar mandi 1 x 1 meter yang digunakan untuk sembilan keluarga lainnya. Eta bekerja sebagai pengemudi ojek daring yang memperoleh uang Rp 100.000 per hari. Sang istri membantu perekonomian keluarga dengan berjualan di depan rumah. Beruntung Eta menjadi 1 dari 11 keluarga yang mendapat bantuan pembangunan lingkungan berupa rumah sehat hasil kolaborasi Yayasan Buddha Tzu Chi dengan Pemprov DKI Jakarta yang dicanangkan pada November 2023.

Hunian sehat yang masih dibangun tersebut berbentuk rusun empat lantai seluas 222 meter persegi, dengan taman bermain anak, ruang terbuka hijau, ruang bersosialisasi, dan ruang untuk berusaha. Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menjelaskan, setiap warga berhak mendapatkan hunian yang laik (Kompas, 24/11/2023). Menurut BPS, rumah layak huni apabila luasnya minimal 7,2 meter per kapita serta memiliki akses air minum dan sanitasi layak. Berdasar rencana Pemprov DKI Jakarta 2023-2026, ditargetkan luasan kawasan kumuh berkurang menjadi 2,26 % pada tahun 2026. Pemprov DKI mencatat ada 450 RW kumuh dari total 2.744 RW. Sebanyak 200 RW sudah ditata, sisanya akan dibenahi bertahap hingga 2026. Data BPS DKI, ada 1,77 juta rumah tangga tak memiliki akses terhadap hunian layak dari 2,78 juta rumah tangga pada 2022. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :