Rusmiyati Menyerah Kalah di Belantara Jakarta
Sejak 1,5 tahun terakhir, Rusmiyati (60) tinggal di gubuk berdinding tripleks, bertiang kayu, beratap seng di atas lahan 1,5 x 2 meter, di samping anak Kali Pulo, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jaksel. Rusmiyati hidup sebatang kara, suaminya, Ali, meninggal 30 tahun silam. ”Semenjak ditinggal suaminya, Rusmiati hidup berpindah-pindah,” kata tetangga Rusmiyati, Veni, Senin (17/6). Gubuknya tidak teraliri listrik dan air bersih. Di kala malam, Rusmiyati mengandalkan lilin. Dia bersandar pada kebaikan tetangganya yang menyalurkan air bersih setiap hari. Pada Sabtu (8/6) malam, lilin diduga menyulut amuk api. Hanya dalam 10 menit, gubuk itu habis dilahap si jago merah. Udin (50) tetangga Rusmiyati menjadi orang pertama yang melihat kebakaran itu. Lidah api mencapai ketinggian 4 meter. Udin dan sejumlah warga mengambil air dari kali untuk memadamkan amuk api. Ketika petugas pemadam tiba, api sudah padam. Mereka menemukan jasad Rusmiyati di dalam gubuk dan membawanya ke RSUP Fatmawati, Jaksel.
Ketua RW 007 Odie Agam menghubungi keluarga Rusmiyati di Bumiayu, Malang, Jatim dan Balaraja, Tangerang, Banten. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika keluarga tidak mau menerima jasad Rusmiyati dan menyerahkan kepada RW untuk memakamkannya, karena mereka tidak punya biaya. Odie kenal keluarga Rusmiyati karena pada awal tahun, Rusmiyati sempat pulang ke rumah saudaranya di Balaraja karena sakit. Setelah dua bulan dirawat, Rusmiyati pulih dan kembali tinggal di gubuk tersebut. Di dekat gubuk Rusmiyati ada dua TPU, yakni TPU Jati Padang dan TPU Jeruk Purut, Jaksel. Hanya saja, yang boleh dimakamkan di TPU Jati Padang adalah yang memiliki silsilah keluarga dari warga setempat. Untuk pemakaman di TPU Jeruk Purut membutuhkan dana Rp 3,5 juta. Walau sudah 30 tahun tinggal di kawasan itu, Rusmiyati tak pernah mau mengurus administrasi kependudukan. Kami sudah menawarinya membuat KTP Jakarta, tetapi dia tidak mau,” ucap Odie.
Atas kesepakatan warga, Rusmiyati tetap memperoleh bansos karena memang membutuhkan. Di RW 007 ada 4.000 keluarga dan dari jumlah itu sekitar 250 keluarga berhak mendapatkan bantuan. Sejak suaminya meninggal, Rusmiati bekerja sebagai buruh cuci di beberapa rumah tetangganya. Namun, saat sudah lanjut usia, dia mengemis dan memulung, di antaranya di halte SDN 5 Pejaten Barat. Hidup Rusmiyati merupakan gambaran dari kerasnya kehidupan Jakarta. Berdasarkan data BPS, tingkat kemiskinan di Jakarta pada Maret 2023 sebesar 4,44 % atau turun 0,09 % dibanding Maret 2020. Jika dibandingkan dengan September 2022, angka kemiskinan saat ini turun 0,17 %. Pengamat Sosial dari UI, Devie Rahmawati, berpendapat situasi yang dialami Rusmiyati merupakan gambaran dari kerasnya kehidupan Jakarta, terutama untuk kaum lansia yang tidak berdaya. Dari situasi ini, seharusnya pemerintah perlu melakukan pendataan secara menyeluruh memastikan warganya tidak telantar. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023