Hengkangnya Pendiri Tokopedia, Gojek, dan Bukalapak
Satu per satu pendiri Tokopedia, Gojek, dan Bukalapak mundur dari jabatannya. Mereka hengkang justru setelah perusahaan yang dulu mereka rintis itu berkembang menjadi unicorn dan decacorn. Cerita hengkangnya para pendiri perusahaan rintisan tersebut dibuka dengan mundurnya William Tanuwijaya, co-founder dan co-chairman GoTo. Merujuk informasi dari akun resminya di LinkedIn, William terdaftar sebagai co-founder dan co-chairman GoTo pada Mei 2021 sampai Juni 2024. GoTo adalah perusahaan hasil merger antara Gojek dan Tokopedia. Keputusan tidak lagi melanjutkan masa jabatannya sebagai co-chairman GoTo diumumkan pada RUPS Luar Biasa (RUPSLB) GoTo di Jakarta, Selasa (11/6). Pendiri lain Tokopedia adalah Leontinus Alpha Edison. Co-founder Tokopedia itu sempat memiliki saham seri A dan seri B di awal proses merger Tokopedia ke GoTo.
Namanya juga ”hilang” setelah merger resmi tuntas dan perusahaan melantai di BEI. Sebelumnya, para pendiri Gojek sudah terlebih dulu mundur, meliputi Nadiem Makarim, Kevin Aluwi, dan Michaelangelo Moran. Moran yang pertama kali mundur, ia mengumumkan mundur dari Gojek per 18 Oktober 2016. Bergabung sejak Gojek berdiri pada 2010, Moran menempati posisi terakhir sebagai brand director. Menyusul Nadiem yang kini menjabat Mendikbudristek. Ia mundur dari Gojek pada 2019 setelah diminta Presiden Jokowi bergabung di kabinet. Sementara, Kevin Aluwi, yang dulu adalah co-founder Gojek, juga mundur dari jajaran tertinggi GoTo. Kevin kini menjadi venture partner di Lightspeed, sebuah perusahaan modal ventura untuk usaha rintisan (start up). Fenomena serupa terjadi di Bukalapak. Achmad Zaky, salah satu pendiri Bukalapak, memutuskan mundur dari jabatan CEO Bukalapak pada Desember 2019.
Diikuti dua pendiri Bukalapak lainnya. Nugroho Herucahyono, yang menjabat sebagai Chief Technology Officer di Bukalapak dari November 2009, mundur per Maret 2020. Bersama Zaky, Nugroho bergabung dengan perusahaan modal ventura bernama Init6 sejak April 2020. Pendiri Bukalapak lainnya, Muhamad Fajrin Rasyid juga mundur dan kini menjabat sebagai Director of Digital Business Telkom Indonesia dari Juni 2020 hingga kini. Managing Partner Discovery/Shift Rama Mamuaya, Senin (17/6), di Jakarta, mengatakan, pendiri start up memiliki beberapa peran. Peran pertama adalah starter yang memulai ide sampai ide itu menjadi bisnis ukuran kecil atau menengah. Peran kedua ialah scaler yang bertugas melakukan ekspansi bisnis. Peran ini biasanya terjadi ketika suatu start up dapat kucuran investasi seri B hingga sebelum IPO.
Peran ketiga ialah menjadi pemimpin atau pembimbing. Dalam peran ini, biasanya mereka bertugas mengelola tim eksekutif agar tidak melenceng dari visi perusahaan. Ini biasanya terjadi pada saat kondisi start up sudah IPO atau menjadi perusahaan berskala sangat besar. ”Ada sejumlah pendiri bisa berkembang bersama perusahaan, seperti Steve Jobs dan Mark Zuckerberg. Akan tetapi, CEO pada start up tahap awal dan IPO berbeda. Oleh karena itu, kebanyakan pendiri akhirnya mengundurkan diri ketika sudah IPO atau sudah besar,” ujarnya. Para pendiri start up biasanya mulai dengan target ingin menjadikan start up tumbuh besar. Namun, ketika sudah menjadi besar, perusahaan akan diikuti dengan tujuan mengincar profit yang makin besar dan ekspansi pasar. Tidak semua pendiri start up mau dan cocok menjalani misi ini. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023