Pekerja Seni Tradisional, Sendiri dan Ditinggalkan
Seni pertunjukan tradisional sebagai benteng kebudayaan Nusantara berada pada posisi sendiri dan ditinggalkan. Tanpa strategi budaya nasional, Indonesia akan mengalami krisis identitas bangsa, kehilangan daya rekat antarkomunitasnya, dan gagal bertransformasi menuju Indonesia maju. ”Mengapa kita berusaha keras untuk melestarikan budaya dan membuatnya berkembang? Kebudayaan adalah sumber identitas dan kohesi masyarakat,” sebut UNESCO dalam artikel berjudul Cultural Heritage: 7 Successes of UNESCO’s Preservation Work. Keberagaman budaya dan kreativitas merupakan pendorong inovasi. Indonesia, sebagaimana temuan Kompas dalam jajak pendapat pada 5-8 Juni 2024 dan pantauan di sejumlah daerah pada pekan lalu, menghadapi tantangan besar dalam hal kebudayaan, terutama dialami pekerja seni pertunjukan tradisional, ini menuntut perhatian dan peran serius pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Merujuk data Kemenparekraf pada 2023, ekonomi kreatif menyumbang PDB hingga Rp 1.419 triliun. Taksiran kontribusi subsektor seni pertunjukan sekitar Rp 5 miliar. Terdapat 84.006 pekerja seni pertunjukan atau 1,09 % dari total pekerja ekonomi kreatif pada 2021, meliputi perancang, pekerja teknis, dan penampil. Sebanyak 87,57 % pekerja seni pertunjukan memiliki upah di bawah rata-rata UMP/UMK. Rata-rata hanya Rp 1,9 juta per bulan. Khusus seni pertunjukan tradisional, rata-rata angkanya jauh lebih kecil lagi. Bahkan, banyak di antaranya tanpa pemasukan dalam sebulan karena tidak ada pentas. Awaluddin (53), anggota Ketoprak Dor Langen Bekti Setio Utomo, di rumahnya di Kabupaten Deli Serdang, Sumut, Jumat (14/6) mengatakan, ketoprak dor sudah lama menghidupi dia dan keluarganya.
Saat masih digandrungi masyarakat, kelompok ketoprak dor di Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, itu bisa tampil setiap hari. ”Sudah lebih dari 10 tahun ini ketoprak dor tidak lagi diminati masyarakat. Kami paling bisa tampil satu kali dalam satu bulan. Saya harus seharian keliling jualan ikan agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Awaluddin yang tampil terakhir kali sebulan lalu di daerah Mabar, Kota Medan, untuk acara hiburan dalam hajatan sunatan. Sekali tampil, mereka mendapat Rp 2 juta. Uang itu dibagi untuk 20 anggota ketoprak dor. Setelah dipotong ongkos transportasi danoperasional, para pelaku seni mendapat sekitar Rp 80.000 per orang. ”Ketoprak dor ini sebenarnya tidak bisa lagi menghidupi kami para pelaku seni. Kami tetap melakoninya benar-benar karena kecintaan kami pada kesenian leluhur di Tanah Deli ini,” ucapnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023