Kuliner Viral Penambah Denyut Pasar
Di era media sosial, kuliner legendaris di pasar-pasar tradisional Yogyakarta Berjaya berkat fenomena viral. Hubungan transaksional antara penjual dan pembeli menjadi lebih beraneka ragam. Denyut pasar pun terus hidup, tanpa putus. Bu Sirep (75) sibuk menggarit tumpukan tempe untuk digoreng di depan warung makannya di Pasar Ngasem, Yogyakarta, Sabtu (8/6). Jam menunjukkan pukul 07.30, tapi antrean pembeli terus mengular panjang. Puluhan orang yang kelaparan tidak sabar menyendokkan bubur atau nasi hangat beserta lauk pilihan ke piring untuk sarapan. ”Saya tidak kebayang warung saya akan seramai ini, mikirnya santai gitu. Dulu memang saya minta sama Allah agar warung saya laris, tapi maksudnya yang biasa-biasa aja, enggak seperti ini,” kata Sirep dengan wajah bahagia. Warung Makan Bu Sirep merupakan salah satu tujuan wisata kuliner untuk sarapan yang populer di kota pelajar ini. Tersedia lebih dari 30 menu masakan tradisional Jawa, mulai dari ayam goreng, lele mangut, tempe gembus, hingga berbagai macam sayur.
Selain lezat, harga makanannya murah meriah. Menu termurah seharga Rp 10.000. Sirep sudah berjualan di sana sejak 2011. Dulu ia cukup memasak 10 kg beras sehari, sekarang ia membutuhkan sekitar 30-40 kg beras sehari. Bahkan, 50 kg sehari saat akhir pekan. Soalnya, bukan hanya warga lokal saja yang datang, tetapi juga wisatawan luar daerah. Titik puncak keramaian baru terasa tiga tahun belakangan ini. Dia sampai bingung sendiri kenapa hal ini bisa terjadi. ”Pembeli-pembeli ada yang ngasih tahu kalau tahu warung dari Tiktok. Katanya viral dan sampai sekarang juga banyak yang sering datang rekam,” tutur Sirep yang mempekerjakan 10 orang untuk membantunya. Setelah doa Sirep terjawab, rezekinya bertambah. Dalam sebulan, ibu empat anak ini mampu meraup keuntungan bersih sedikitnya Rp 10 juta setiap bulan. Setimpal dengan pengorbanannya yang harus bangun pukul 02.00 setiap hari untuk memasak.
Viralnya warung Bu Sirep di medsos masih terasa sekarang. Setiawati (48), warga Yogyakarta, untuk kali pertama menginjakkan kaki di Pasar Ngasem pagi itu demi menyantap bubur yang dia lihat di Tiktok beberapa bulan lalu. ”Saya penasaran yang mana sih warungnya. Ternyata rasanya enak karena saya juga senang bubur dan masakan Jawa,” kata Wati bersemangat. Medsos membuat relasi timbal balik antara penjual dan pembeli semakin bervariasi. Penjual dan pembeli di masa lalu hanya bertransaksi dalam bentuk penukaran makanan dan uang. Sekarang, penjual mendapat keuntungan promosi di medsos pembeli, sedang pembeli menggunakan penjual dan makanan untuk kebutuhan konten. Kadis Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani mengatakan, kuliner legendaris di pasar tradisional berkontribusi besar pada keberlangsungan pasar. Hampir setiap pasar di Yogyakarta punya kuliner tradisional. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023