;

INDUSTRI E-COMMERCE : POMPA RESILIENSI DI TENGAH BADAI PHK

Ekonomi Hairul Rizal 15 Jun 2024 Bisnis Indonesia
INDUSTRI E-COMMERCE : POMPA RESILIENSI DI TENGAH BADAI PHK

Industri e-commerce Indonesia dipandang masih memiliki prospek yang cukup apik meskipun pebisnis tier 1 yang melakukan pemutusan hubungan kerja sebagai konsekuensi pergantian pemegang saham. Namun demikian, bisnis model e-commerce dinilai perlu beradaptasi dengan berbagai perkembangan terkini guna meningkatkan resiliensi mereka atas berbagai tantangan. Medio 2024, badai pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghampiri industri e-commerce Bumi Pertiwi. Teranyar, platform belanja online Tokopedia resmi mengumumkan PHK terhadap 450 karyawan kemarin, Jumat (14/6).Perampingan karyawan itu dilakukan pasca TikTok mengakuisisi 38,19 juta saham atau setara 75,01% saham Tokopedia.Direktur Corporate Affairs Tokopedia dan ShopTokopedia Nuraini Razak menyatakan bahwa pihaknya telah menemukan beberapa area untuk menyesuaikan tujuan perusahaan. Dia pun tak menampik kabar yang berlalu lalang beberapa hari terakhir terkait PHK.“Menyusul penggabungan TikTok dan Tokopedia, kami telah mengidentifi kasi beberapa area yang perlu diperkuat dalam organisasi dan menyelaraskan tim kami agar sesuai dengan tujuan perusahaan,” jelasnya, Jumat (14/6).Dia menyatakan bahwa pihaknya harus melakukan penyesuaian, termasuk PHK, agar perusahaan dapat terus bertumbuh.

Meskipun ada PHK pada salah satu pebisnis e-commerce di Indonesia pada tahun ini, tetapi prospek industri ini dipandang masih cukup positif.Direktur Ekonomi Digital dan Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan bahwa bisnis e-commerce di Indonesia masih memiliki prospek yang positif meski tidak sebesar yang diperkirakan.Hal ini lantaran Bank Indonesia (BI) mencatat, target transaksi e-commerce tidak tercapai dan lebih lambat dari tahun lalu. Bank sentral mencatat realisasi nilai transaksi perdagangan elektronik atau e-commerce mencapai Rp453,75 triliun sepanjang 2023.Nilai tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan dengan target BI yang ditetapkan sebesar Rp474 triliun. Capaian ini juga lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada 2022 sebesar Rp476,3 triliun. Sementara secara volume, transaksi e-commerce pada 2023 tercatat mencapai 3,71 miliar. Volume transaksi tersebut meningkat dibandingkan dengan realisasi pada 2022 yang tercatat mencapai 3,49 miliar. Meskipun, Huda memandang bahwa terlihat adanya perubahan model bisnis yang dilakukan oleh e-commerce yang akan lebih menyesuaikan zaman dan permintaan pasar. Model seperti sosial media, lanjut Huda, bisa menjadi salah satu cara e-commerce untuk bisa adaptif dengan permintaan pasar.

Di sisi lain, Huda menilai bahwa ancaman PHK yang mungkin terjadi tidak hanya berlaku untuk TikTok—Tokopedia, melainkan juga startup digital lainnya, terutama di tengah masa sulit pendanaan. Di sisi lain, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan bahwa tindak lanjut dari aksi korporasi seperti merger dan akuisisi memicu efisiensi operasional yang berujung pengurangan karyawan. Dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Indonesia E-Commerce Association (idEA) Bima Laga juga sepakat bisnis e-commerce masih memiliki prospek yang bagus. Apalagi, imbuhnya, Indonesia memiliki jumlah populasi yang besar dan bonus demografi yang akan tercapai pada 2030—2040. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh beberapa hal, mulai dari ekonomi global hingga masa transisi pascapemilihan umum (Pemilu) sehingga investor masih wait and see “Jadi, apakah hanya mengandalkan investasi? Tentu enggak, karena investasi bukan sesuatu yang seperti dana hibah, sesuatu yang dipakai tetapi tidak perlu dikembalikan. Investasi itu harus dikembalikan,” katanya.Selain itu, Bima memandang bahwa bisnis e-commerce juga mengikuti iklim ekonomi di dalam negeri, mulai dari pekan usaha, konsumen, dan regulasi yang harus sejalan.

Download Aplikasi Labirin :