;

Warga Miskin Kota dan Sulitnya Akses Air Bersih

12 Jun 2024 Kompas
Warga Miskin Kota dan
Sulitnya Akses Air Bersih

Dibandingkan dengan daerah lain di Jakarta, Jakut merupakan daerah yang paling banyak memiliki masalah terkait dengan penyediaan air bersih. Warga Kampung Kembang Lestari, Muara Baru, Jakut, Sugiarti, mengatakan, hingga saat ini sejumlah RT di wilayahnya masih belum menerima manfaat air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga harus membeli Rp 600.000 per bulan. Warga yang tidak mampu terpaksa menggunakan air tanah yang tak layak pakai. ”Saya terus menagih janji PAM Jaya agar air bersih masuk ke Kembang Lestari,” kata Sugiarti dalam Dialog Multipihak Mengakhiri Ketimpangan Ekonomi dan Gender dengan Pengakuan Kerja Layak, Perlindungan Sosial dan Akses Air Bersih bagi Perempuan di Jakut, Selasa (11/6).

Berbeda dengan Sugiarti, warga Kelurahan Rawa Badak, Koja, Jakut, Halimah, mengatakan, wilayahnya sudah memiliki fasilitas air perpipaan oleh pihak PAM Jaya. Akan tetapi, airnya tidak layak dikonsumsi. ”Airnya bau, berwarna coklat atau butek, dan asin. Banyak jentiknya juga. Jangankan diminum, dibuat sikat gigi saja mengerikan,” kata Halimah. Untuk keperluan minum, mandi, dan mencuci, Halimah membeli air galon dan dari tukang gerobak air keliling yang sebulan menelan Rp 400.000. Di sisi lain, ia masih harus membayar untuk langganan air PAM Jaya.

”Saya mohon pemerintah memperhatikan persoalan air ini. Kami orang bawah hanya ingin memiliki air bersih. Kami merasa sudah miskin semakin dimiskinkan,” ujar Halimah. Upaya yang biasa warga lakukan adalah meminta air PAM Jaya di Kelurahan Lagoa, dengan mengalirkan air melalui selang panjang. Hanya saja, setiap keluarga di Rawa Badak harus mengeluarkan uang Rp 20.000 per jam demi mendapatkan kucuran air bersih. Berlatar kesulitan air bersih itu, sejak 2012, Halimah menjadi bagian dari Koalisi Warga Jakarta Menentang Privatisasi Air.

DKI Jakarta Hendri menyebut, saat ini Pemprov DKI tengah meningkatkan pasokan air bersih melalui instalasi pengolahan air (IPA) permanen atau stasioner dan pembangunan waduk serta embung. Dinas ini juga menyediakan IPA mobile. Selain itu, Dinas SDA DKI Jakarta menyediakan mobil tangki air untuk membantu daerah yang mengalami krisis air. Lalu, membuat waduk atau embung konservasi air tanah dan kebijakan terkait pengelolaan air bersih. ”Kami mendukung program layanan perpipaan air bersih Perumda PAM Jaya untuk mencapai layanan perpipaan 100 % pada tahun 2030,” ujar Hendri. Pihak Perumda PAM Jaya membidik target 77.000 sambungan pipa baru pada 2024 di seluruh wilayah DKI Jakarta. Sebab, baru 69 % warga Jakarta yang mendapatkan layanan air perpipaan. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :