Selamatkan Hutan dan Warga Adat Papua
Gerakan "All Eyes on Papua" yang bergaung di media sosial pantas mendapat dukungan penuh. Inisiatif tersebut menjadi momentum penting bagi kita semua untuk bersatu menyelamatkan hutan Papua sekaligus menghormati hak-hak warga adat yang sekian lama terabaikan. Poster "All Eyes on Papua" yang viral di media sosial menunjukkan solidaritas masyarakat terhadap suku Awyu di Boven Digoel, Papua Selatan, dan suku Moi di Sorong, Papua Barat Daya. Dua suku tersebut tengah berjuang menyelamatkan hutan mereka. Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit yang akan dilakukan PT Indo Asiana Lestari mengancam hutan seluas 36 ribu hektare, lebih dari setengah luas Jakarta, yang merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat adat.
Nasib komunitas adat di wilayah tersebut jelas berada dalam bahaya. Pembukaan lahan sawit bukan hanya mengancam keberlangsungan hidup mereka, tapi juga merusak paru-paru dunia. Suku Awyu telah menggugat izin lingkungan proyek itu ke pengadilan tata usaha negara. Sayangnya mereka kalah di dua tingkat peradilan, yaitu di Pengadilan Tata Usaha Negara Jayapura pada November 2023 dan di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Manado pada Maret 2024. Harapan terakhir mereka kini ada di Mahkamah Agung.
Unggahan "All Eyes on Papua" awalnya menyoroti konflik agraria yang dialami komunitas suku Awyu di Boven Digoel. Kampanye yang digagas oleh berbagai lembaga advokasi lingkungan ini sudah sepantasnya memicu diskusi masyarakat luas untuk mencari solusi atas pelbagai persoalan yang melanda Papua. Boven Digoel merupakan satu dari 35 kota dan kabupaten di Papua yang masuk kategori daerah dengan kemiskinan ekstrem. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik pada Maret 2023, jumlah penduduk miskin di Boven Digoel mencapai 14,25 ribu jiwa atau 19,80 persen dari total penduduk. Adapun penduduk yang tergolong miskin ekstrem sebanyak 3.610 jiwa atau 5,02 persen.
Boven Digoel—tempat tinggal suku Awyu—juga merupakan kabupaten dengan tingkat deforestasi tertinggi kedua di Papua, dengan setidaknya 51 ribu hektare hutan sudah gundul atau berubah fungsi. Pembabatan hutan seluas itu diperkirakan melepaskan emisi 25 juta ton CO2, setara dengan 5 persen dari tingkat emisi karbon pada 2030. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Papua, tapi juga secara global. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023