Ambisi Bangun Rantai Pasok Aspal
Usai mengantongi dana segar dari initial public offering (IPO), PT Xolare RCR Energy Tbk memiliki amunisi baru untuk menuntaskan sejumlah target ekspansinya. Emiten yang menggunakan kode saham SOLA ini berambisi membangun rantai pasok bisnis aspal. Berdiri tahun 2015, SOLA bergerak di bisnis modifikasi aspal. Setelah selesai proses restrukturisasi melalui konsolidasi anak-anak perusahaan, SOLA memiliki enam anak perusahaan. Anak usaha itu di antaranya PT Aspal Polimer Emulsindo dan PT Aplikasi Bitumen yang berada di Demak, Jawa Tengah, PT Modifikasi Bitumen Sumatera di Muara Enim, Sumatera Selatan, serta PT Bumiraya Energi Hijau di Jakarta. Melalui anak-anak usaha inilah, SOLA hendak membangun jaringan rantai pasok bisnis aspal. Saat ini SOLA sudah mengintegrasikan binisnya. Selain usaha modifikasi aspal, SOLA juga menjadi aplikator atau kontraktor pengerjaan jalan area tambang (hauling road). Selain itu, SOLA juga mengembangkan bisnis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sektor ini diakomodir oleh PT Bumiraya Energi Hijau sebagai kontraktor PLTS berbasis industri. Presiden Direktur SOLA, Mochamad Bhadaiwi melihat, prospek bisnis di aspal dan pembangkit listrik dapat berkelanjutan. Menurutnya bisnis aspal adalah bisnis yang consumable.
Di sisi lain, SOLA harus menanggung biaya pengiriman aspal dari pabrik Demak ke proyek perusahaan pada industri tambang di Kalimantan. Ongkosnya bisa lebih besar ketimbang biaya impor dari Timur Tengah. Karena itu, SOLA bertekad untuk membangun anak usaha bernama PT Xolabite Bitumen Borneo. Secara keseluruhan, bisnis aspal menjadi segmen utama SOLA. Kontribusinya mencapai 65%. Di saat yang sama bisnis elektrikal menunjukkan keberlanjutan, dengan dimulainya beberapa proyek yang menawarkan konsep zero capex pada industri. Lalu, sebanyak Rp 16 miliar akan digunakan untuk membangun pabrik aspal membran dan aspal coating. Kemudian, Rp 1,5 miliar akan digunakan untuk renovasi pabrik di Demak dan sebesar Rp 2,5 miliar untuk renovasi pabrik di Muara Enim. Dalam jangka pendek, SOLA hendak membangun depo di Palembang, Tuban, dan Kalimantan. Lalu dalam jangka menengah, depo ini akan tersebar di Sumatra Utara, Lampung, Jabotabek, Cilacap, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi. Lalu, target jangka panjang menyasar Papua. Perusahaan mengklaim, dengan berdirinya setiap depo, SOLA akan mampu menghasilkan Rp 45 miliar. Sehingga pada tahun 2024, perusahaan bisa mengantongi pendapatan Rp 115 miliar. Sedangkan laba bersih diharapkan mencapai Rp 20 miliar.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023