;

Pandemi Covid-19 Dorong Indonesia Masuk Industri 4.0

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 18 May 2020 Investor Daily, 15 Mei 2020
Pandemi Covid-19 Dorong Indonesia Masuk Industri 4.0

Pandemi Covid-19 yang tengah melanda Indonesia dan dunia membawa sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, masyarakat didorong masuk revolusi industri 4.0 melalui penggunaan teknologi baru, sedangkan sisi negatifnya menimbulkan krisis ekonomi di berbagai belahan dunia, yang tidak tahu sampai kapan. Meski begitu, ekspor dan neraca perdagangan Indonesia masih positif kuartal I-2020. Adapun pertumbuhan ekonomi pada periode itu melambat menjadi 2,97%.

Pendiri Lippo Group Mochtar Riady mengatakan, secara tidak sadar, semua orang dipaksa dan membiasakan diri untuk hidup dalam teknologi baru. Dia mencontohkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, konsumen sudah harus membiasakan diri membeli barang melalui pasar online atau e-commerce, di tengah kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Demikian pula dengan sistem pembayaran yang turut mendukung transaksi jual beli, seperti OVO dan yang lain.

Mochtar menerangkan, revolusi industri menjadi penting, karena dapat membuat perekonomian Indonesia menjadi besar seperti Tiongkok. Dia mengatakan, teknologi digital bisa mengatasi kemiskinan di daerah. Sebab, selama ini petani menjual hasil pertanian dengan harga murah, sedangkan petani harus membeli barang dengan harga yang jauh lebih mahal daripada di kota, karena adanya masalah distribusi. Mochtar menilai, teknologi digital dapat menjadi persoalan logistik dan suatu saat orang desa bisa menjual barang dengan harga yang lebih baik. Selain itu, teknologi digital akan membuat dunia pendidikan menjadi lebih baik.

Sementara itu, dia menilai, efek negatif dari pandemi itu dapat dilihat dari kejatuhan perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia, mulai dari Singapura, Amerika Serikat (AS), Tiongkok hingga Uni Emirat Arab (UEA). Berbagai negara lain juga mengalami krisis finansial dan ekonomi yang sangat serius dan tidak ada yang tahu sampai kapan akan berakhir. Dia membandingkan dengan krisis ekonomi 2008 yang membutuhkan 6-7 tahun hingga dapat kembali pulih. Ia menyarankan pemerintah mampu menjalin hubungan yang lebih dekat dengan negara maju seperti Tiongkok, India dan Amerika Serikat (AS) karena dianggap memilikisumber daya manusia hingga teknologi yang sangat baik.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, neraca perdagangan surplus US$ 2,6 miliar kuartal I tahun ini. Walau begitu dia tidak memungkiri, pandemi Covid-19 telah memberikan efek negatif pada perdagangan secara signifikan, mulai dari stok komoditas, pasokan, permintaan, perjanjian perdagangan internasional, dan negosiasi perjanjian dagang. Dia menerangkan, pertumbuhan ekonomi negara pada 2020 diperkirakan lebih rendah dari target APBN 2020. Proyeksi tersebut dibagi ke dalam dua skenario, yakni skenario buruk dan terburuk. Dalam skenario buruk, ekonomi tumbuh sekitar 2,3% dan terburuk turun 0,4%. Skenario ini masih lebih rendah dibanding prediksi Lembaga Moneter Internasional (IMF) yang sebesar 0,5%.

Download Aplikasi Labirin :