;

Ezed Qyoko Wahyuni Pratiwi Merawat Asa Penganyam ”Tikew”

Ekonomi Yoga 29 May 2024 Kompas (H)
Ezed Qyoko Wahyuni Pratiwi
Merawat Asa Penganyam ”Tikew”

Ezed Qyoko Wahyuni Pratiwi (32) membuka jalan pemberdayaan bagi para perajin tikew. Melalui usaha kerajinannya, ia meningkatkan kualitas kerajinan warga di Tulang Bawang Udik, Lampung. Selum pandemi Covid-19, Qyoko menjalani usaha bisnis travel wisata. Namun, bisnisnya terpaksa ditutup tiga tahun karena terdampak pandemi. Sejak itu, ia memilih kembali ke desanya, memulai usaha kerajinan pada 2020 lantaran melihat kerabatnya memakai topi anyaman yang dibeli dari perajin di Desa Karta, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung. Qyoko mencari tahu perajin yang membuat topi anyaman itu, hingga bertemu beberapa ibu rumah tangga yang sedang menganyam purun atau tikew oleh masyarakat setempat. Di Desa Karta memang terdapat banyak kawasan belukar dan rawa yang ditumbuhi tanaman purun. Untuk mendapatkannya, warga harus berjalan kaki 1 km untuk mencabut dan mengumpulkan batangan purun. Sayangnya, tradisi menganyam di kalangan masyarakat desa itu nyaris tergerus perkembangan zaman. 

Tak banyak ibu-ibu yang menjadi perajin karena pekerjaannya sering dipandang sebelah mata oleh tetangga. ”Saat saya mau mendokumentasikan lewat foto dan video, mereka malu. Ibu-ibu itu tidak ingin dikenal sebagai perajin tikew. Ada anggapan menganyam hanyalah pekerjaan pengangguran yang sudah tak punya pilihan lain,” kata Qyoko saat ditemui di Bandar Lampung, Selasa (14/5). Padahal, tikew sangat lekat dengan kebudayaan masyarakat Tubaba. Saat seorang anak lahir, keluarga biasanya mengadakan acara doa bersama dan menjamu para tamu dengan menggelar apai atau tikar yang terbuat dari anyaman purun. Apai juga digunakan pada prosesi pemakaman. Motif anyaman untuk pemakaman pun berbeda dengan motif anyaman untuk tikar biasa. ”Kalau tikar untuk orang meninggal itu motif anyamannya lurus. Maknanya, supaya perjalanan lurus. Jadi, ternyata sesakral itu kerajinan tikew bagi masyarakat Tubaba,” katanya.

Setelah bekerja sama dengan beberapa mitra, ia mulai membuat berbagai macam produk, seperti topi dan berbagai macam bentuk tas. Ia juga membuat tas untuk komputer jinjing dan dompet gawai. Berbagai produk kerajinan diperkenalkan dengan jenama Atuqu. Kata ”Atuqu” merupakan panggilan untuk kakak perempuan tertua dalam keluarganya. Qyoko memanfaatkan media sosial, terutama Whatsapp dan Instagram, untuk memasarkan produknya. Ia memperkenalkan topi tikew berbentuk segi empat sebagai produk unggulan kerajinannya, yang melambangkan kerukunan masyarakat empat marga yang hidup berdampingan di Tubaba. Produknya mendapat respons yang baik dari pasar. Ia mendapat banyak pesanan, baik dari dalam kota maupun luar kota. ”Saya pernah mendapat sampai 1.000 pesanan topi tikew.Ini membuat para perajin sangat senang,” ucapnya. Kini, produk kerajinan tersebut telah terjual ke sejumlah daerah di Indonesia. Produk itu juga telah dibeli oleh beberapa kenalannya dari luar negeri. Kelak, ia berharap bisa mengenalkan berbagai produknya ke sejumlah negara. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :