Mengapa Banyak Gen Z Menganggur
ZAFA Adelia, 22 tahun, berbulan-bulan mencari pekerjaan di Jakarta. Lulusan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia yang termasuk generasi Z alias gen Z itu sudah mengirim puluhan surat lamaran kerja, tapi belum satu pun yang membuahkan hasil. Sebagai angkatan kerja baru, Zafa khawatir tak memenuhi kualifikasi bekerja di perusahaan. "Karena fresh graduate, kadang juga bingung harus punya skill apa dan dapatnya di mana," ujarnya kepada Tempo, Kamis, 23 Mei 2024.
Beberapa kali Zafa menemukan lowongan pekerjaan yang sesuai dengan latar pendidikannya. Sayang, perusahaan menetapkan syarat minimal pengalaman bekerja satu sampai tiga tahun. Bahkan ia mengungkapkan banyak perusahaan yang mengenakan biaya pelatihan dengan iming-iming diterima bekerja. Ketatnya persaingan pencari kerja di Jakarta membuat Zafa mempertimbangkan melamar bekerja di daerah lain. Namun ia masih ragu karena upah minimum yang lebih kecil. Karena itu, dia berupaya mencari lowongan magang meski tak dibayar. Dengan mengikuti magang, ia berharap dapat menambah pengalaman bekerja dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan perusahaan.
Bunga, 22 tahun, menghadapi masalah yang sama. Lulusan D-3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga itu sudah dua tahun belum mendapat pekerjaan tetap. Menurut Bunga, tak banyak perusahaan yang mau menerima lulusan D-3. Di sisi lain, Bunga merasa tidak cocok dengan jurusan yang ia pilih. Ia pun memilih mencari pekerjaan di bidang yang berbeda dengan pendidikannya. Sebagai pemula, dia juga terhalang oleh syarat minimal pengalaman bekerja.
"Lowongan magang saja bahkan dicari yang sudah berpengalaman. Perusahaan tidak mau menerima orang yang baru memulai," ucapnya. Ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dan angkatan kerja baru memang menjadi salah satu pangkal masalah banyaknya gen Z yang menganggur. Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyoroti penyumbang angka penganggur terbanyak di kalangan gen Z berasal dari lulusan SMK. Angka pengangguran tersebut bahkan mencapai 8,9 persen. "Penganggur kita ini terbanyak disumbang lulusan SMK dan SMA. Ini terjadi karena adanya miss-match," ucapnya. (Yetede)
Tags :
#Dalam NegeriPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023