Lesu Darah Industri Sepatu
Letak Toko Olsa tergolong strategis karena dekat dengan kantong parkir pengunjung sentra sepatu di Jalan Cibaduyut, Kota Bandung, Jawa Barat. Tapi posisi strategis itu tidak serta-merta membuat pengunjung ramai. Pemilik Toko Olsa, Santi Nurhani, 39 tahun, menyebutkan angka penjualan sepatu produksi bengkel rumahan di tempatnya terus menurun. "Turun sejak menjelang pemilihan umum lalu. Omzet hilang hampir 70 persen," katanya kepada Tempo, Ahad, 19 Mei 2024. Toko Olsa menjual berbagai macam sepatu dan sandal yang terbuat dari kulit hewan. Produk termurahnya berupa sandal dari kulit dengan harga Rp 25-35 ribu per pasang. Untuk sepatu, harganya mulai Rp 150 ribu per pasang.
Santi berdagang di Cibaduyut sejak 15 tahun lalu. Ia mengaku bisnis sepatu tidak lagi semoncer pada masa sebelum pandemi Covid-19. Dulu tokonya bisa menjual lebih dari 50 pasang sepatu sehari. Ketika wabah mereda, bisnis tidak ikut pulih. Rata-rata penjualan sepatu hanya 10 pasang per hari dengan omzet sekitar Rp 2 juta. Tahun ini Santi berharap situasi akan menjadi lebih baik. Namun, menjelang Pemilu 2024, penjualan tiba-tiba anjlok. "Dapat Rp 500 ribu atau Rp 300 ribu sehari sudah lumayan banget," ujarnya. Momentum Idul Fitri pun tak mampu mendongkrak angka penjualan. "Biasanya pada pekan kedua puasa sudah dapat uang lumayan. Sekarang malam takbiran saja tidak dapat duit, padahal kami buka sampai jam 12 malam."
Santi mengatakan banyak penyebab yang membuat sentra sepatu Cibaduyut makin redup. Dari jalanan yang selalu macet hingga penutupan Bandar Udara Husein Sastranegara. Pengalihan penerbangan ke Bandara Kertajati di Majalengka menjauhkan turis dari Cibaduyut. Dia ingat kawasan ini dulu ramai dikunjungi wisatawan, salah satunya dari Malaysia. Kini Santi menggantungkan penjualan kepada wisatawan lokal. Penurunan angka penjualan juga dirasakan Restu Ramdani, 32 tahun, yang memiliki bengkel sepatu rumahan di Blok Lumbung, Cibaduyut, bernama Woship Division. Sejak berdiri pada 2021, Woship tak pernah berhenti berproduksi. Bengkel itu banyak mengerjakan pesanan sepatu dari beberapa perusahaan pemegang merek sepatu lokal sekaligus mengembangkan merek dagangnya sendiri bernama Chila. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023