;

Geliat China yang Kian Menakutkan AS

Ekonomi Yoga 19 May 2024 Kompas
Geliat China yang Kian Menakutkan AS

CEO Ford Motor Company Jim Farley harus terus memutar otak. Laba perusahaan anjlok. Laporan keuangan kuartal I-2024, Rabu (15/5) memperlihatkan penurunan laba signifikan, hanya 1,3 miliar USD, turun 24 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Farley mengakui bisnis kendaraan listrik Ford sebagai hambatan terbesar bisnis mereka. Bahkan, menyusul kerugian dalam penjualan kendaraan listriknya, Ford berpotensi mengalami kerugian operasional 5,5 miliar USD akibat penjualan yang tak maksimal. Untuk mengurangi potensi kerugian, Liz Door yang bertanggung jawab pada mata rantai suplai bahan baku produksi Ford Motor Co, Kamis (16/5) mengeluarkan memo yang berisi agar pemasok barang pembuatan kendaraan listrik mengurangi biaya produksinya. Ford juga memutuskan menunda peluncuran kendaraan listrik barunya, dari rencana semula tahun 2025 menjadi tahun 2027.

Belum sempat menarik napas, Ford dan seluruh industri otomotif AS harus memutar otak lebih keras. BYD (baca: Bi Ya Di), produsen asal China, meluncurkan Shark, truk double cabin hibrida untuk pasar Amerika Utara. Meksiko menjadi pusat produksi dan distribusi. Perwakilan BYD wilayah Amerika Utara, Stella Li, menolak anggapan bahwa pemilihan Meksiko untuk menyasar pasar AS. BYD, sebut Li, saat ini tak memiliki rencana memasuki pasar AS. Li menyebut, pemilihan Meksiko karena pertumbuhan pasar yang besar di negara tersebut dan kawasan Amerika Utara, di luar AS. Tapi, semua mafhum bahwa Meksiko adalah pintu gerbang negara-negara ketiga untuk masuk ke pasar AS.

Aliansi Perusahaan Manufaktur AS sudah mengeluarkan peringatan jika produk otomotif China, termasuk BYD, berhasil menembus pasar AS. ”Masuknya kendaraan China bisa membawa kepunahan otomotif AS,” tulis organisasi tersebut dalam sebuah laporan. Bos Tesla, Elon Musk, mengatakan, dengan produk bagus dan kompetitif, perusahaan otomotif China, termasuk BYD, akan berhasil menguasai pasar di luar daratan China. ”Sejujurnya, jika hambatan perdagangan tidak ditetapkan, mereka akan menghancurkan sebagian besar perusahaan lain di dunia. Mereka sangat bagus,” katanya. BYD sejak akhir tahun telah merebut mahkota penjualan kendaraan listrik global dari Tesla. Tesla berada di urutan ke dua dan dikelilingi produsen otomotif asal China lain yang masuk dalam daftar 10 besar penjualan kendaraan listrik global. Menyusul Eropa, Jepang, dan Korsel.

Orang nomor 1 di Stellantis, induk perusahaan otomotif AS, Chrysler, Carlos Tavares, mengatakan, pesaing nomor 1 mereka adalah produsen mobil asal China. Dia menyebut, sekarang adalah era pertarungan besar industri mobil global versus produsen otomotif China. Ancamannya tidak terbatas pada volume ekspor. Produk-produk yang dikeluarkan banyak pabrikan otomotif China memiliki desain modern, futuristis, dan disematkan banyak teknologi terbaru, membuat pabrikan dari negara lain jauh tertinggal. Selain design and build, kualitas yang tergolong apik serta harga yang terjangkau juga membuat orang berpaling pada produk otomotif China. Seagull, yang baru diluncurkan BYD. Meski belum masuk pasar AS, kemampuan BYD untuk memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai dengan banderol harga di bawah 12.000 USD atau Rp 193,2 juta mencengangkan.

Dengan kapasitas baterai sebesar 38,8 KWH, mobil berkapasitas empat-lima penumpang ini diklaim bisa menempuh jarak hingga 405 km. ”Ini adalah mobil-mobil yang membuat saya takut. Bagaimana kita bisa memotong setengah harga kendaraan listrik? China sudah melakukannya,” kata Kristin Dziczek, penasihat kebijakan otomotif Federal Reserve Bank of Chicago cabang Detroit. Proteksi jadi pilihan Di saat pabrikan otomotif AS masih membutuhkan waktu untuk menyaingi China, Gedung Putih tak punya cara lain kecuali menghambatnya, selain menerapkan tarif tinggi pada produk kendaraan listrik China. Selasa lalu, Presiden AS Joe Biden menaikkan tarif bea masuk produk asal China, termasuk kendaraan listrik, dari 25 % menjadi 100 % mulai tahun 2025. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :