Meniti Keseimbangan Baru
Pandemi virus, yang merontokkan perekonomian global, diperkirakan mengakibatkan dampak ekonomi lebih lama di negara-negara maju seperti AS dan Eropa. Namun, dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan Cina justru membuka front baru duel pengaruh ekonomi ke berbagai kawasan dunia. Pandemi virus hampir pasti semakin meninggikan tensi rivalitas kedua raksasa ekonomi dunia itu.
Ketegangan rivalitas tersebut, bahkan sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu, ketika Presiden AS Donald Trump menghembus slogan 'America First' yang berujung pada perang dagang dengan Cina. Namun, mendekati akhir tahun lalu, sekitar Desember, kedua negara berhasil mencapai kesepakatan awal yang dikenal sebagai 'Fase Pertama'.
Ketika perekonomian mulai diprediksi pulih perlahan selama 2020, terjadi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), berawal di Wuhan, Cina. Jaringan pasokan dan permintaan global mendadak anjlok secara bersamaan, mengakibatkan akitivitas ekspor impor pun menurun drastis. Hampir semua kegiatan perekonomian terdisrupsi, bahkan terhenti sama sekali. Perekonomian global, yang mulai pulih meski masih rapuh, ditengarai mencapai titik terendah sepanjang sejarah.
Dalam kondisi seperti itu, konflik dua raksasa ekonomi itu, kembali meruncing. Kedua negara kini bahkan saling tuding perkara asal mula pandemi. AS bahkan menghentikan bantuan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lantaran dianggap lebih mementingkan Cina.
Sekitar pertengahan April lalu, Washington Post melansir pernyataan Trump yang berencana mengambil langkah 'menghukum' Cina dengan tidak membayar kewajiban utang AS pada Cina dalam bentuk obligasi senilai 1,1 triliun dolar AS.Langkah ini disebut sebagai kompensasi atas sikap Cina yang dianggap tidak transparan dalam tindakan awal menangani pandemi.
Namun, pernyataan Trump dibantah penasehat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow. Hanya saja, bantahan ini tidak menyurutkan Trump. Trump menegaskan, akan melakukan cara lain dengan lewat tarif perdagangan. Sedangkan tarif terkait perang dagang saja belum benar-benar dihapus meski kesepakatan 'Fase Pertama' tercapai. Kepala Ekonom RSM, Joe Brusuelas mengungkap, tindakan itu jelas tidak diperlukan karena dapat menjadi bumerang bagi perekonomian AS sendiri, berpotensi mengubah resesi menjadi benar-benar depresi.
Deepak Puri, CIO Amerika di Deutsche Bank Wealth Mana gement melontarkan, perdebatan sekitar pengenaan tarif baru adalah kabar buruk, baik bagi pasar uang dan perekonomian secara keseluruhan. Ancaman baru tarif Trump terhadap produk-produk Cina boleh jadi mencerminkan hubungan terburuk kedua negara sejak beberapa dekade lalu. Dan saat ini, hubungan kedua adidaya ekonomi dunia itu semakin buruk lantaran kedua saling tuding terkait keterbukaan penanganan pandemi.
Pandemi virus tidak hanya menyebabkan terperosoknya perekonomian banyak negara, yang diperparah dengan semakin kronisnya hubungan AS dan Cina yang selama bertahun- tahun seperti bersaing keras mendominasi perekonomian dunia. Setidaknya begitulah pandangan Economist Intelligence Unit (EIU).
Hanya saja, meski retorika tudingan terhadap Cina bermunculan, namun pandangan lain mencuat kalau tudingan itu tidak akan menghentikan Cina meluaskan pengaruh dan dominasi ekonominya di dunia. Dan ini berarti pandemi virus global justru mempercepat pergeseran keseimbangan global dari Barat ke Timur.
Kaho Yu, analis di Verisk Maplecroft, konsultan risiko dan strategi, dalam paparannya di CNBC menyebutkan sedikitnya tiga faktor yang dimainkan Cina. Pertama, memainkan secara agresif peran Cina dalam menangani pandemi virus. Kedua, resesi ekonomi global yang melemahkan keinginan lebih banyak negara yang ingin mengambinghitamkan mitra dagang terbesarnya. Ketiga, kondisi pandemi yang sadar atau tidak, mengurangi peran dan pengaruh AS di panggung global.
Faktor-faktor itu diperkirakan berujung pada meningkatnya dominasi dan pengaruh Cina dalam perekonomian global. Meski prediksi tersebut bisa dibilang masih terlalu dini, namun EIU melihat juga sisi lain yang mungkin mendorong pergeseran keseimbangan kekuatan ekonomi global terjadi lebih cepat.
Di sisi lain, EIU juga melihat Cina, mulai memperlihatkan diri sebagai negara yang pertama bangkit dari krisis, sekaligus juga negara pertama yang memulai pemulihan ekonomi. Dan negara-negara berkembang, dengan kepentingan ekonomi nasional masing-masing, barangkali bakal tertatih meniti dan mengambil posisi dalam pergeseran menapaki keseimbangan baru global.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Perdagangan AS-China
Dampak Blokade Selat Hormuz pada Logistik Laut
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023