Tren Penurunan Surplus Perdagangan Berlanjut
Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus, meski menyusut. Hal tersebut sejalan dengan perbaikan kinerja impor pada April 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor pada April 2024 senilai US$ 19,62 miliar, menurun 12,97%secara bulanan atau month to month (mom). Koreksi ini dipicu ekspor nonmigas yang menurun 14,06% mtm menjadi US$ 18,27 miliar, terutama pada komoditas logam mulia dan permata (HS 71), dengan kontribusi penurunan 2,12%. Lalu, "Penurunan juga didorong mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) dengan andil 1,44%, beserta kendaraan dan bagiannya (HS 87) dengan andil penurunan 0,77%," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, Rabu (15/5). Di sisi lain, ekspor migas mencapai US$ 1,35 miliar, naik 5,03% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikannya terutama didorong pertumbuhan ekspor gas dengan kontribusi 0,80%. Sementara itu, kinerja impor pada April 2024 mencapai US$ 16,06 miliar, turun 10,60% mtm. Namun penurunannya lebih rendah ketimbang ekspor.
Penurunan impor terutama pada komponen migas sebesar 11,01% mtm menjadi US$ 2,96 miliar. Selain itu, nilai impor nonmigas tercatat US$ 12,10 miliar, turun 10,51% mtm. "Penurunan impor secara bulanan disebabkan penurunan nilai impor nonmigas dengan andil 8,57%," tambah Pudji. Sehingga neraca perdagangan Indonesia pada April kembali melanjutkan tren surplus, yakni mencapai US$ 3,56 miliar, meski menyusut 5,17% dari bulan sebelumnya. "Surplus neraca perdagangan ini sudah berlangsung selama 48 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," tambah dia. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, koreksi impor yang lebih baik dibandingkan ekspor sejalan dengan meningkatnya permintaan minyak untuk kebutuhan Idul Fitri. Ditambah lagi, harga minyak di level yang tinggi lantaran tersengat konflik di Timur Tengah. Senada, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan ekspor maupun impor pada Mei akan meningkat. Adapun kenaikan ekspor sejalan dengan perbaikan harga sejumlah komoditas. Sementara kenaikan impor dipicu oleh kinerja manufaktur yang masih di level ekspansi.
Tags :
#PerdaganganPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023