Stop Ekspansi, Korporasi Parkir Duit di Bank
Ketika ketidakpastian pasar akibat pandemi korona meningkat, prinsip cash is the king tampaknya menjadi pilihan para nasabah tajir di Tanah Air hal ini seperti dicatat Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Menurut data yang ada, sepanjang kuartal I-2020 simpanan nasabah bernilai di atas Rp 5 miliar tumbuh paling tinggi sementara nilai di bawah Rp 100 mencatat perlambatan paling tinggi dan simpanan berkisar Rp 100 juta hingga di bawah Rp 1 miliar juga minus
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah mengatakan, yang menopang pertumbuhan simpanan di atas Rp 5 miliar adalah dana milik pemerintah dan juga dana milik korporasi. Ia menambahkan, hal ini salah satunya disebabkan oleh terhentinya ekspansi akibat wabah korona dan permintaan di pasar menurun. Tapi jika Covid-19 berlangsung berlarut-larut, kondisi tersebut juga tak akan bertahan lama karena harus membayar operasional, gaji, utang bank dan lainnya.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira melihat ada indikasi kelas di sini. Kelas atas cenderung menabung dan menahan belanja. Sementara kelas menengah bawah mengambil simpanan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, seiring dengan berkurangnya pendapatan dan kehilangan pekerjaan.
EVP Head of Wealth Management Bank Commonwealth, Ivan Jaya mengakui, ada pertumbuhan dana bernilai besar dari high net worth individuals (HNWI) alias nasabah-nasabah tajir. Terutama di bank-bank besar maupun bank asing. Para nasabah memilih menempatkan dana di instrumen cukup likuid seperti deposito.
Sementara Direktur Konsumer Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan mengatakan hingga Februari 2020 DPK berhasil naik 5% ytd. "Dana murah masih tumbuh di atas 10%. Sedangkan deposito tercatat melambat," kata Lani.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023