Bukit-bukit Rwanda Menjadi Saksi
Selasa (30/4) dini hari, udara terasa sejuk di Kigali, Rwanda. Tak lama hujan mereda, tampaklah burung-burung bermain-main pada dahan pohon di belakang balkon penginapan. Dari balkon itu tampak bukit-bukit hijau di kejauhan, berbaris indah mengelilingi kota. Wajarlah Kigali dikenal sebagai ”Kota Seribu Bukit”. Pesona lembah dan perbukitan kini menjadi andalan pariwisata Rwanda. Orang datang dan mengagumi wajah Kigali nan bersih yang membawa kota itu berjuluk kota terbersih di Afrika. Wisatawan pun memilih Rwanda sebagai tujuan ekowisata karena beragam pilihan yang ditawarkan, mulai dari mendaki gunung, menikmati danau-danau indahnya, bercengkerama dengan gorila gunung, melihat rombongan gajah, hingga mengamati burung-burung.
Ekowisata Rwanda menyuntikkan 80 % sumber pemasukan negeri itu, membawa kekaguman akan ekonomi berkelanjutan di negeri di bagian timur Afrika itu. Setelah genosida, yang membantai 800.000 jiwa minoritas etnis Tutsi hanya dalam 100 hari, Dalam 30 tahun kemudian, Rwanda tampil sebagai negara yang dikenal dengan warganya yang ramah. Pariwisata mendongkrak pertumbuhan Rwanda tercepat di Afrika, bahkan yang paling cepat pulih pascapandemi Covid-19. Pariwisata berhasil menyumbang pertumbuhan dengan angka yang spektakuler, melesat hinga 247 juta USD pada semester I-2023, naik tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2022 sebesar 158 juta USD (Bank Dunia).
Pemandu wisata sekaligus pemilik usaha Fab Ecotour, Fabrice Mogabe, sambil berkeliling kota menceritakan kisah kebangkitan Rwanda. Genosida memberi pelajaran penting bagi Rwanda, betapa berharganya hidup dalam persaudaraan. ”Kini, kami tak lagi menyebut apakah kami seorang Tutsi atau Hutu, tetapi kami adalah Rwanda,” katanya. Fabrice membawa berkeliling ke Museum Kampanye Antigenosida, di Gedung Parlemen Rwanda yang hanya memakan waktu 15 menit berkendara dari penginapan. Iteru, pemandu museum menjelaskan dengan runut perjalanan Rwanda yang semula hidup dalam damai, berubah menjadi neraka. Seiring hadirnya kolonial di negeri itu, pemisahan identitas berdasarkan perbedaan etnis dinyalakan.
Kebencian dihidupkan bagi kelompok minoritas, yakni suku Tutsi dan Hwa. Akhirnya, melahirkan pembantaian massal. Tragedi yang berlangsung 100 hari, mulai 7 April hingga 15 Juli 1994, menewaskan 800.000 jiwa, artinya dalam sehari, 8.000 warga dibantai. Perjalanan singkat ini menghadirkan tekad besar Rwanda menata kembali diri. Rwanda telah membangun citranya menjadi harum. Di sepanjang perjalanan kami dalam kota Kigali, sampah tak terlihat. Bahkan, tak satu pun puntung rokok ataupun sebatang sedotan tampak tercecer di jalan. Gorong-gorong dan selokan juga bersih dari sampah. Bahkan, tak ada sisa lumpur mengendap di dasar selokan. Bukit-bukit yang berbaris indah itu menjadi saksi. Takkan ada lagi tangis dan darah selain pesona alam dan hangatnya persaudaraan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023