Petronela Merauje, Perempuan Penjaga Hutan Mangrove
”Sejak zaman moyang kami, mangrove diwariskan kepada perempuan yang mengelola, makanya kami sebut sebagai hutan perempuan. Kami juga memegang tanggung jawab untuk terus menjaga ekosistem ini,” kata Petronela Merauje (43) atau Mama Nela di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Kamis (9/5). Dalam belasan tahun terakhir, Mama Nela menjadi sosok perempuan Enggros yang konsisten menggaungkan pelestarian lingkungan demi keberlanjutan mangrove di Teluk Youtefa ini. Mama Nela bercerita, warisan pemanfaatan ini turun-temurun diberikan kepada kaum perempuan di dua kampong di Teluk Youtefa, yakni Enggros dan Tobati. Hutan perempuan pun menjadi pertemuan mereka untuk saling berbagi cerita tentang kehidupan. Kaum laki-laki hanya diperbolehkan masuk ke dalam hutan untuk keperluan tertentu dan mendapat izin secara adat.
Ruang bebas ini membuat perempuan Enggros tidak ragu untuk menanggalkan pakaian saat sedang beraktivitas mencari kerang ataupun kepiting. Mama Nela merasa perempuan Enggros perlu semakin peka pada kondisi mangrove di tengah pembangunan kota yang terus berkembang. Ancaman limbah dan deforestasi menjadi sebuah keniscayaan yang bisa mengancam ekosistem sumber kehidupan mereka. Pada 2011, ia bersama kalangan muda peduli lingkungan di Jayapura bergabung dalam Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), yang aktif dalam penanaman mangrove dan membersihkan sampah rumah tangga di Teluk Youtefa.
Pada 2018, Mama Nela mendirikan sanggar Ibayauw untuk memanfaatkan potensi dari produk turunan mangrove dan kerajinan tangan dari daur ulang sampah plastik. Ia mengajak belasan ibu rumah tangga di Kampung Enggros bergabung ke dalam sanggar tersebut. ”Buah dari mangrove bisa dimanfaatkan sebagai jus atau manisan. Di sanggar saya memberdayakan mama-mama membuat produk kerajinan seperti tas, vas bunga, dan gelang dari sampah-sampah yang bermuara di hutan mangrove,” ujarnya. Lewat Komunitas Monj Hen Wani yang dibentuk pada 2023, ia rutin melakukan gerakan swadaya pengelolaan rumah tangga sebagai ikhtiar mengurangi sampah yang mengarah ke Teluk Youtefa.
Berkat berbagai kontribusi dan kepedulian selama bertahun-tahun, Mama Nela meraih penghargaan Kalpataru dari KLHK yang diberikan langsung oleh Menteri LHK Siti Nurbaya pada Juni 2023. Mama Nela melihat nilai eksklusif hutan perempuan bisa menjadi potensi wisata yang menarik dan eksklusif bagi kaum hawa. Kehadiran wisata perempuan ini diharapkan membuat ibu rumah tangga semakin antusias menghasilkan dan memasarkan berbagai produk olahannya. ”Ini seharusnya menjadi daya tarik. Nantinya wisatawan diajak melihat cara-cara dalam menangkap kerang atau kepiting. Selain itu, wisatawan juga bisa diajak berendam dengan kebebasan bertelanjang tadi. Ini bisa menjadi sebagai terapi alami,” ujarnya. Mama Nela ingin berbagai gerakan ini mampu menggerakkan kalangan perempuan lintas generasi di Enggros untuk terlibat dalam menjaga lingkungan. Ekosistem yang terbentuk akan bersama-sama menjaga keberlanjutan hutan perempuan sebagai warisan leluhur dan pemberi penghidupan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023