Mengamankan Pasokan Bahan Bakar Nabati
Upaya mengejar pemanfaatan bahan bakar nabati nasional makin kencang. Langkah untuk menggantikan peran bahan bakar minyak bersumber fosil ke energi ramah lingkungan menjadi prioritas. Begitu mendesaknya agenda tersebut, Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pun mematok target cukup tinggi untuk pemanfaatan biodiesel dan etanol dalam bauran bahan bakar minyak (BBM), berupa B50 dan E10 pada 2029. B50 merupakan bahan bakar yang diolah dengan campuran 50% fosil dan sisanya dari minyak sawit. Adapun, E10 menjadi bahan bakar yang dibuat dengan komposisi campuran 10% etanol dan 90% bensin. Sayangnya, masih banyak pekerjaan rumah untuk mengakselerasi pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) nasional.
Mulai dari persoalan jaminan pasokan bahan baku dari produsen minyak sawit dan tebu, penyediaan lahan, skala prioritas antara kebutuhan di sektor pangan dan energi, hingga konsistensi pasar. Begitu banyaknya pekerjaan rumah ini, mendorong pemerintah untuk merespons cepat. Keamanan pasokan bahan baku, misalnya, disadari menjadi penting mengingat kebutuhan khalayak terhadap BBN diproyeksikan bakal terus naik setiap tahunnya. Di sisi lain, pemerintahan turut bakal mendorong PT Pertamina (Persero) untuk berinvestasi pada pembangunan fasilitas pengolahan biofuel yang saat ini masih relatif terbatas dari sisi kapasitas produksi. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) stok minimal minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) untuk menopang program biodiesel B40 sekitar 17,57 juta kiloliter. Hitung-hitungan tersebut berasal dari asumsi kebutuhan Solar pada 2024 sebesar 38,04 juta kiloliter.
Kehadiran biodiesel saat ini begitu mendesak apalagi setelah angka impor BBM nasional terus meningkat setiap tahunnya. Pengembangan bahan bakar nabati nasional menjadi solusi strategis pemerintah untuk meningkatkan ketahanan energi. Indonesia yang begitu kaya dan beriklim tropis menjadi pendukung diversifikasi energi yang mengutamakan potensi energi lokal. Di sisi lain, kerja sama antara para pemangku kepentingan menjadi nilai tambah sekaligus kunci pencapaian target B50 dan E10 pada 2029.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023