;

Emiten Properti Terjepit Bunga

Ekonomi Hairul Rizal 29 Apr 2024 Kontan
Emiten Properti Terjepit Bunga

Kondisi suku bunga tinggi bakal berefek terhadap permintaan properti. Sehingga, emiten properti dengan portofolio terdiversifikasi lebih disukai di tengah kredit yang akan membebani pembelian rumah ataupun apartemen. Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,25% pada pertemuan April 2024. BI menyebut kenaikan suku bunga ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya risiko global, serta sebagai langkah antisipasi untuk menjaga inflasi. Alhasil, bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) diperkirakan juga bakal meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda menilai, suku bunga tinggi merupakan kondisi yang kurang baik bagi emiten properti, bahkan dapat membebani kinerja. 

Hal itu karena kondisi suku bunga tinggi dapat menekan keinginan masyarakat untuk membeli hunian baru. Emiten properti dengan fokus bisnis rumah tapak atau apartemen akan terpukul saat kondisi suku bunga tinggi. Namun untuk emiten properti pusat perbelanjaan tidak begitu berpengaruh karena masyarakat tetap melakukan aktivitas belanja. Dia turut mengantisipasi tantangan emiten properti karena adanya penurunan anggaran rumah subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di tahun 2024. 

FLPP adalah dukungan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Sementara yang menjadi peluang emiten properti tahun ini yaitu insentif dari pemerintah mengenai PPN DTP yang diperpanjang hingga akhir 2024. Di samping itu, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara bakal membuka jalan bagi emiten properti untuk catatkan pertumbuhan kinerja. Analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo memperkirakan, kuatnya permintaan perumahan akan terus berlanjut karena adanya lonjakan permintaan di wilayah perkotaan. 

Dengan asumsi rata-rata empat orang per rumah, maka Indonesia menghadapi tambahan permintaan sebesar 1 juta unit rumah per tahun di wilayah perkotaan, di luar dari 12,7 juta Sementara, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa menyukai BSDE dan SMRA, PWON karena pertumbuhan pendapatan berulang tahunannya yang solid. Yasmin merekomendasi beli ketiganya dengan target masing-masing Rp 1.370, Rp 940 dan Rp 560 per saham.

Download Aplikasi Labirin :