;

Kisah Tambak Udang Karimunjawa

Ekonomi Yoga 30 Apr 2024 Kompas
Kisah Tambak Udang Karimunjawa

Usaha tambak udang di Kepulauan Karimunjawa, Jepara, Jateng, menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, usaha itu diklaim menyerap banyak tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian, namun juga mencemari lingkungan dan melanggar aturan. Kemunculan tambak udang di Karimunjawa dimulai Sumarlan (78) asal Pati, Jateng, yang menetap di Desa Kemujan, Karimunjawa, Jepara. Sumarlan melihat banyak lahan tidur dan rawa yang berpotensi untuk budidaya udang windu, lalu membangun tambak udang yang melibatkan puluhan warga dengan cangkul sehingga memakan waktu dua tahun. Tahun 1989, tambak berukuran 100 x 50 meter itu mulai beroperasi. ”Budidaya udang windu berlangsung sampai tahun 1998. Karena krisis ekonomi global, harga jual udang turun,” kata Suroto (43), menantu sekaligus penerus usaha tambak udang yang dirintis Sumarlan, saat ditemui di Kemujan, Selasa (16/4).

Tahun 2016, muncul tambak udang intensif pertama di Karimunjawa dengan udang vaname. ”Dalam satu siklus (panennya) sukses luar biasa. Aaya belajar (budidaya udang vaname) dari beliau,” ujar Suroto. Sekali panen, menghasilkan 6-8 ton udang dengan keuntungan bersih Rp 20 juta-Rp 30 juta. Keuntungan besar dari tambak udang vaname membuat warga Kemujan tergiur membuka usaha serupa. Salah satunya Faisol (33) yang menjadi petambak pada 2022. Dengan modal Rp 1,5 miliar, ia membuat enam petak tambak dengan luas masing-masing 8.000 meter persegi yang beroperasi mulai 2023. ”Dengan sistem tambak intensif, dari Januari 2023 sampai Februari 2024, saya tiga kali panen. Sekali panen, pendapatan bersih Rp 50 juta,” ucap Faisol.

Berdasarkan data Tim Ter padu Penyelesaian Tambak Udang Karimunjawa, ada 238 petak tambak udang vaname yang tersebar di 33 titik pada dua desa, yakni Desa Kemujan dan Desa Karimunjawa. 20 titik adalah tambak intensif, enam titik tambak semiintensif, dua titik tambak udang tradisional, dan lima titik tidak diketahui jenisnya. Wakil Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia Budhy Fantigo menyebut, budidaya tambak udang vaname di Karimunjawa terus berkembang. Pada 2022, tambak udang vaname di Karimunjawa bertambah menjadi 33 titik dengan luas total 41 hektar, yang dimiliki 18 orang, 10 diantaranya warga luar Jepara, seperti Rembang, Surabaya, dan Indramayu. Pada 2018-2019, produksi udang dari Karimunjawa 1.600 ton per tahun, senilai Rp 131 miliar. Keberadaan tambak udang di Karimunjawa menyerap banyak tenaga kerja, terutama saat musim panen, mencapai lebih dari 1.000 orang.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Jepara Hery Yuliyanto menyebut, aktivitas tambak udang vaname di Karimunjawa tak berizin. Berdasarkan Perda No 4 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jepara Tahun 2023-2043, Karimunjawa tidak diperuntukkan untuk aktivitas tambak udang. Usaha tambak udang di Karimunjawa juga dinilai mencemari lingkungan. Bahkan, empat petambak telah ditetapkan sebagai tersangka terkait pencemaran limbah tambak udang di Taman Nasional Karimunjawa, dimana para petambak membuang limbah tambak udang ke wilayah perairan TN Karimunjawa tanpa izin sehingga mengakibatkan kerusakan terhadap terumbu karang dan menyebabkan wisatawan yang melakukan aktivitas wisata di pantai dan perairan TN Karimunjawa gatal-gatal, kata Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK Rasio Ridho Sani,pada Maret. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :