Merdeka Mengonsumsi sampai ke Cirebon
Catur Nugroho (36) supervisor RM Ayam Goreng Bahagia 71 Hj
Sunarti, mengenang saat pertama mengenal baju bermerek internasional. Bukan
dari butik aslinya yang ternama, melainkan di pasar baju second (bekas) di
Cirebon yang dikenal dengan nama Cimol. ”Cimol, ’Cirebon Mal’ bekas gitu. Bukan
jualan barang-barang cacat, tapi barang bekas pakai orang-orang luar yang masih
bagus,” tuturnya, Jumat (29/3) sore, di Cirebon, Jabar. Ia berburu kaus second
branded itu karena tak mungkin membeli di gerai aslinya. Harganya mahal. ”Di sana ada pengepulnya. Jadi, kalau kita
beli, ada satu karung gede terus kita disuruh cari sendiri. Ada Uniqlo, Adidas,
macam-macamlah,” ujar Catur. Ia membeli baju-baju itu dengan harga Rp 15.000
atau Rp 20.000 per potong. Kualitasnya, tak jauh beda dengan produk merek-merek
itu saat ini. ”Saya ngumpulin, dipakai, habis itu dijual. Kalau sudah bosan
tawarin ke teman-teman sendiri,” katanya seraya tertawa.
Uniqlo adalah salah satu produk yang disukai Catur. Menurut
dia, bahannya enak dan modelnya simpel. Saking fanatiknya, ia masih menyimpan
satu jaket dan dua kaus Uniqlo second. ”Enggak nyangka, setelah 10 tahun,
Uniqlo buka juga tokonya di Cirebon. Hari ini pun ramai banget karena pembukaan
Uniqlo. Jalanan sampai macet,” ucap Catur. Waktunya pas karena orang-orang juga
baru saja menerima THR. Tak ayal, hari itu, Cirebon macet laiknya Jakarta.
Pengunjung memadati Mal CSB, parkiran penuh sesak. Jalan Dr Cipto Mangunkusumo
yang berada di depan mal padat kendaraan sejak pagi hingga jelang tengah malam.
Pengunjung, tua, muda, dan anak-anak, antre sejak pagi dan keluar menenteng tas
belanja berlogo Uniqlo. Sebagian mengenakan sarung dan peci, menyuguhkan pemandangan
khas santri ”Kota Udang”.
Sukma (22) pegawai perusahaan konfeksi di Cirebon asal Bekasi
sudah tiba di Mal CSB sejak pukul 08.00. Bersama seorang teman, dua jam sebelum
mal buka untuk menyambut pembukaan gerai Uniqlo. Ia antre panjang di pintu
masuk gerai toko itu bersama pengunjung lain. Wajah-wajah mereka semringah,
berpadu dengan raut penasaran dan antusiasme di tengah hawa Cirebon yang gerah
dan lembab. Sukma mengaku ingin menjadi orang yang pertama menyaksikan
pembukaan gerai merek populer asal Jepang itu di Cirebon. Katanya, biar tak
ketinggalan tren. Rupanya Sukma dijangkiti sindrom FOMO alias fear of missing
out. Takut ketinggalan. Ia juga tak khawatir lagi ketinggalan mode. Sebagai
pencinta mode, ia bisa tetap terlihat keren seperti anak-anak muda di kota
lain.
Ahmad Dailami (20) dan Ibnu (21) tak sungkan berjejalan
dengan ratusan pengunjung lain di toko baru tersebut. Kedua pemuda yang
bermukim di Talun, Cirebon Selatan itu, berangkat pukul 07.00 demi menyambut
pembukaan gerai merek tersebut. ”Bukan karena gengsi, tapi lebih karena
bahannya yang enak, adem, kayak premium gitu. Biarpun harganya enggak murah-murah
banget, tapi worth it sih harganya,” kata Ahmad. Meski antrean di kasir mengular
panjang, Ahmad dan Ibnu tak gentar. Keranjang mereka penuh dengan kemeja untuk
menyambut Lebaran. Lidia Rosdiana (20) datang ke CBS dari rumahnya di Kabupaten
Cirebon bersama kakak dan ibunya, menempuh perjalanan satu jam mengendarai mobil.
Menurut dia, kehadiran merek Uniqlo di
Cirebon menjadi bukti kemajuan Cirebon. Ini juga membuktikan bahwa Cirebon
sudah dikenal banyak orang, sekaligus sebagai tujuan investasi. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023