Potret Nelayan Natuna, Tersingkir di Laut Sendiri
Yuni (26) pada 16/4 mengarkan perahu ke laut yang berbatasan
dengan Serawak, Malaysia untuk meolong Deki (40) di koordinat sekitar 4 derajat
Lintang Utara dan 110 derajat Bujur Timur. Deki kehabisan oli mesin. Perahu
mereka terpaut jarak 30 km. Yuni dan Deki berasal dari Pulau Subi, Kabupaten Natuna,
Kepri. Di tengah jalan, Deki berteriak lewat radio komunikasi. ”Jangan ke sini!
Aku kena tarik,” kata Deki. Dua tahun belakangan, banyak nelayan Natuna
ditangkap aparat Malaysia di perairan itu. Dua hari kemudian, rekaman video memperlihatkan
Deki dan tujuh nelayan lain ditahan penjaga pantai atau Agensi Penguat kuasaan
Maritim Malaysia (APMM).
Konsul Jenderal RI (KJRI) di Kuching, Malaysia, Raden Sigit
Witjaksono, mengatakan, APMM menangkap tiga perahu dan delapan nelayan asal
Natuna. Mereka masuk ke perairan Malaysia sejauh 13 batu atau 20,9 kilometer. ”Kami
prihatin karena (penangkapan nelayan Natuna) ini sudah kesekian kalinya dalam
waktu berdekatan,” kata Sigit, saat konferensi pers daring pada Rabu (24/4). Sepanjang
2024 ada 14 nelayan Natuna yang ditangkap APMM di perairan Serawak. Selain
kasus Deki dan kawan-kawan, APMM juga menangkap dua nelayan pada 9 Februari dan
empat orang pada 9 Maret.
Empat orang yang ditangkap pada Februari 2024 telah dijatuhi
hukuman penjara 4-5 bulan. Selain itu, nakhoda dikenai denda Rp 3,3 miliar dan
anak buah Rp 1 miliar. Karena mereka tidak mampu membayar denda, pengadilan menjatuhkan
kurungan tambahan selama dua bulan. Menurut data Kompas, tiga perahu nelayan
Natuna itu ditangkap Kapal Tun Fatimah milik APMM di koordinat 4 derajat
Lintang Utara dan 110 derajat Bujur Timur. Lokasi itu wilayah abu-abu karena
ada tumpang tindih klaim zona ekonomi eksklusif (ZEE) antara Indonesia dan Malaysia.
KJRI belum mengantongi informasi koordinat penangkapan delapan nelayan Natuna
dari APMM.
Dedi (39), nelayan Pulau Bunguran, mengaku berkali-kali disergap
APMM di lokasi Deki dan kawan-kawan tertangkap. Beruntung ia tidak ditahan,
APMM hanya menyita seluruh ikan tangkapan. ”Di utara ikan dihabisi kapal
Vietnam, di timur nelayan ditakut-takuti aparat Malaysia. Sekarang kami harus
cari makan di mana lagi,” ujarnya. Darmazi (52), nelayan Pulau Subi,
mengeluhkan maraknya kapal cantrang asal pantai utara Jawa. Kapal-kapal berukuran
lebih dari 10 kali lipat perahu nelayan lokal itu sering menangkap ikan sampai
ke perairan yang berjarak kurang dari 7 km dari garis pantai. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023