Memaksimalkan Potensi Karbon Biru dalam Dokumen Penurunan Emisi
Saat ini, Indonesia tengah menyusun dokumen kontribusi
nasional penurunan emisi kedua atau second NDC yang dimandatkan Kesepakatan
Paris 2015. Target penurunan emisi dalam NDC kedua ini nantinya menyesuaikan
skenario mempertahankan kenaikan rata-rata suhu permukaan Bumi secara global tidak
lebih dari 1,5 derajat celsius. Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/4)
Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Laksmi Dhewanthi menyampaikan, Indonesia
akan mengidentifikasi penambahan sektor baru yang akan dituangkan dalam NDC kedua,
yaitu kelautan. Potensi sektor kelautan sebagai instrumen penurunan emisi gas
rumah kaca atau karbon biru sudah menjadi fokus Indonesia sejak beberapa tahun
terakhir. Bahkan, potensi karbon biru sebagai bagian dari penghitungan target
mitigasi perubahan iklim sudah dilakukan KLHK pada 2021 meskipun saat itu belum
dimasukkan dalam dokumen pembaruan NDC.
Indonesia sudah memiliki satu peta mangrove dengan proyeksi
karbon biru hingga mencapai lebih dari 3,3 miliar ton. Di sisi lain,
pengurangan emisi tahunan karbon biru sebanyak 10-31 % memberikan kesempatan
yang sangat baik untuk melakukan akselerasi terkait upaya mitigasi perubahan
iklim sekaligus meningkatkan komitmen dalam NDC. Indonesia berupaya memaksimalkan
potensi penurunan emisi dari karbon biru yang sangat besar karena memiliki 3,3
juta hektar mangrove dan 3 juta hektar padang lamun. luas mangrove di Indonesia ini merupakan 23 %
dari total mangrove dunia. Namun, hilangnya mangrove dalam tiga dekade terakhir
telah menghasilkan emisi gas rumah kaca yang cukup besar. Sebaliknya, studi
mengungkap bahwa menghindari konversi mangrove akan mengurangi hingga 30 %
emisi nasional dari sektor tata guna lahan.
Ekosistem mangrove juga diketahui memiliki kemampuan
menyimpan karbon lebih besar daripada hutan tropis daratan. Hasil studi para peneliti
dari University of California-Riverside (UCR) dan University of California-San
Diego, AS, menunjukkan, mangrove mampu menjaga karbon hingga 5.000 tahun. Sementara
di Indonesia, hutan mangrove rata-rata mampu menyerap 52,85 ton karbon dioksida
(CO2) per hektar per tahun. Angka ini lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan estimasi
global, yakni 26,42 ton CO2 per hektar per tahun. Adapun total potensi
penyerapan karbon di Indonesia mencapai 170,18 megaton CO2 per tahun. Indonesia
juga berupaya mengoptimalisasi potensi karbon biru dalam mitigasi perubahan
iklim melalui perdagangan karbon internasional sesuai dengan dokumen NDC. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023